Mendapat IELTS 8. Mungkinkah?

 

Hi All!

*disclaimer: tulisan agak panjang, semoga tidak bosan, ya.

Udah lama gak nulis. Maklum, generasi millenials lebih sukanya nulis di medsos yang gak usah nulis panjang kali lebar dan meaningful, jadilah saya baru sempet nulis lagi disini. Alesan aja lu, Rin.

Kali ini saya mau sharing soal perjuangan panjang saya belajar bahasa Inggris sampai akhirnya bisa dapat skor IELTS 8! *zoomin *zoomout. Sebelum cerita perjuangan IETLS saya mau share sedikit background ya. Saya ambil tes IELTS demi keperluan sekolah paska sarjana di luar. Luar negeri? Bukan. Terus?Luar rumah. Okay, gak lucu. 

Sebelum ini saya belum pernah ambil tes IELTS. Cuma pernah simulasi ala-ala gitu deh dari tempat les. Kebiasaan saya dari dulu emang gitu . Ikutan les persiapan tapi gak langsung ambil tesnya karena jiper juga males. Mehong bok seharga trip backpacking ke Malaysia. Haha. Saya cuma pernah beberapa kali ambil tes TOEFL, itu juga sebatas ITP dan EPT yang konon katanya jauh lebih gampang ketimbang TOEFL IBT.

Nah, sekolah inceran saya minta nilai overall 8 dan each band enggak boleh di bawah 7. Begitu saya tahu langsung rasanya mau membenamkan badan sisa kepala di pasir pantai sambil asik memandang matahari terbenam. Okay, lebay lagi, tapi beneran gitu rasanya sik.

Fast forward to present time…

Karena sudah mantap mau lanjut sekolah jadi saya juga memantapkan hati untuk ikut persiapan IELTS. Jadilah sekira bulan Agustus kemarin saya dan satu teman lagi memutuskan untuk mencari guru privat yang bersedia melatih kemampuan kami. Di awal pertemuan guru kami bilang kalau kami hanya akan bertemu 5 kali dalam waktu 1,5 bulan. Dalam rentang waktu itu dia akan berikan kami PR yang masif, terstruktur, dan sistematis. Guru juga bilang kami akan fokus belajar untuk Speaking dan Writing test karena biasanya yang banyak mengalami kesulitan di dua bagian itu. Sementara Reading dan Listening kami diberi tips saja dan diminta untuk practice dimanapun dan kapanpun kita sempat.

Guru juga memberikan buku IELTS Cambridge lengkap 1-12 dan satu buku khusus Speaking yang isinya pertanyaan/topik yang pernah diajukan di IELTS. Sebenarnya dari guru tidak ada target harus mengerjakan berapa section dalam satu minggu. Penekanan dia adalah anytime anywhere harus sempatkan waktu untuk belajar. Terutama writing karena kita harus menyesuaikan diri dengan batas waktu dan jenis soal. Untuk listening dan reading kami disarankan untuk perbanyak menonton film tanpa subtitle dan membaca artikel berbahasa Inggris.

Dalam rentang waktu itu saya benar-benar meluangkan waktu khusus untuk belajar IELTS. Di kantor  kalau sedang tidak ada kerjaan saya pasti akan latihan reading dan listening. Akhir pekan juga saya habiskan untuk latihan IELTS.  Dalam seminggu saya berusaha untuk menyelesaikan satu buku IELTS. Tapi selang-seling, ya. Karena otak mayan ngebul juga disumpelin IELTS saban hari.

Cara saya atur waktu belajar kurang lebih begini:

  • Senin belajar Listening dan Reading.
  • Selasa off (atau les)
  • Rabu Writing 1 dan 2
  • Kamis off (atau les)
  • Jumat Listening-Reading
  • Akhir pekan Listening-Reading (atau tidur 12 jam)

Untuk Writing saya usahakan sebisa mungkin dalam satu minggu untuk latihan Writing 1 dan 2 masing-masing 1. Hasilnya dikirim ke guru dan dia akan kasih respon secepatnya. Untuk Writing 1 kesulitan saya adalah memilih data mana yang mau saya jabarkan. Saya juga lemah dalam membaca tabel apalagi kalau dapat soal yang dua tabel dan variabelnya banyak. Ya Allah, bantu A’im ya Allah. Kesalahan umum lainnya saya di Writing adalah penggunaan tenses. Entah kenapa saya kebiasaan make kalimat pasif. Padahal sangat rentan melakukan kesalahan kalau nulis pasif.

Kalau untuk Writing 2 saya lumayan terbantu karena terbiasa nulis berita semasa jadi wartawan dulu . Tapiii saya mesti membiasakan diri dengan gaya penulisan akademik  yang kudu musti “Pendahuluan, 2/3 paragraf penjelasan, dan kesimpulan” yang kadang bikin pusing itu. Selain itu saya banyak baca contoh tulisan orang di IELTS test sebelumnya. Saya juga lahap sebanyak-banyaknya artikel di isu-isu yang kayaknya sering banget muncul di tes IELTS. Lumayan banget membantu loh ini terutama untuk memberikan argumentasi di Writing 2. Saran lainnya yang saya dapat itu sebelum waktu tes selesai usahakan untuk mengecek tulisan mulai dari kesalahan penggunaan singular, plural, dan tenses.

Speaking gimana, Rin? Well for this one I am lucky to have a good Canadian friend who is willing to help me practice *smooches. Kakak perempuan saya yang lagi kuliah S3 di Korea(dan masih single gaes, high-quality loh gaessss) juga berbaik hati bantu saya latihan *smooches. Berkat les dan bantuan dua orang terdekat saya semakin terbiasa untuk bercakap bahasa Inggris. Karena lumayan grogi loh bicara sama native speaker soal topik yang juga kita enggak terbiasa bicarakan sehari-hari. I mean, do you talk to your friends about Climate Change daily or about the latest post of Lambe Turah?

Ketika hari tes itu tiba oh sesungguhnya belum pernah sebelumnya saya pipis sesering itu dalam satu hari :))) Oia selain perbanyak doa, sarapan, tidur cukup, saran terpenting dari guru saya yang sangat ngaruh banget yaitu…

“Ketika listening selesai segera lupakan soalnya yang sulit atau apapun itu, langsung lanjut fokus ke reading. Begitu selesai lupakan segala macam terkait reading dan listening, lanjut ke Writing.”

And it totally worked. I found myself able to concentrate fully and didn’t find myself stressing about the previous section. Setelah selesai Listening, Reading, dan Writing hampir semua peserta langsung sibuk membahasnya. Saya?  langsung ngacir cari tempat ngopi dan makan siang. Percayalah,  mendengar temen kalian ngebahas soal dan jawabannya malah akan bikin stress karena kalian jadi kepikiran jawaban kalian benar atau enggak.

Anyway, 13 hari setelah perjuangan penuh derita itu saya mendapat hasilnya dan voila! saya berhasil mendapat target skor IELTS: 8!

Overall (8): Listening (8,5). Reading (8.5). Writing (7). Speaking (7)

Saya sampe nangis di toiletnya IDP Kelapa Gading. Enggak nyangka karena mikir paling tinggi dapat 7,5. Sampai mesti cek beberapa kali untuk memastikan itu bener gak halusinasi :))))

Anyway, anyway, inti dari tulisan panjang ini sih yang penting selama kalian niat dan bener-bener meluangkan waktu untuk latihan pasti bisa mencapai target skor IELTS yang kalian inginkan. Kalau belum berhasil jangan cepet nyerah ok?Ok donk.

Semoga tulisan panjang ini membantu, yes!

Last but not least, I wish you good luck! and wish me luck too 😀

 

Advertisements