Body Image 

DSC00488

Dulu waktu remaja (iye, waktu masih muda kira2 10 tahun lebih dikit yang lalu) gue memiliki masalah dengan body image. Saat itu yang ada dalam pikiran gue tubuh yang bagus itu yang kulit putih, kurus, tinggi, dan rambut lurus  hitam panjang. Diserang lewat iklan pemutih kulit nonstop setiap hari di TV, billboard, sampai tekanan dari orang sekitar.

Gue dipanggil “item koliang” atau item keling/item banget dalam bahasa Minang sama saudara-saudara tiap kali ketemu, “item batako” sama teman-teman, dan banyak candaan lain tentang warna kulit gue.

I was struggling a lot to love myself back then. Tiap beli pelembab kulit yang gue cari adalah yang punya fungsi pemutih. Hasilnya? Bahahahaha. Bisa tebak sendiri lah ya.

Dan sejujurnya semua  itu sangat mempengaruhi masa remaja gue. I was a reserved girl especially in high school. I didn’t hang out with my girlfriends because I felt I wasn’t pretty and “white” enough compare to them.

Semuanya pelan-pelan berubah setelah masuk kuliah. Mungkin karena gue bertemu teman-teman yang super baik, dan banyak baca buku. I ended up loving to read books/articles on feminism or alike yang bikin gue sadar  bahwa hidup lu bukan soal warna kulit cerah atau gelap.

Dan akhirnya gue belajar kalau konstruksi sosial dalam masyarakat yang sedemikian rupa membawa gue ke pemikiran semacam itu . Tubuh lu bukan milik lu, tapi menjadi milik masyarakat dan mereka dengan bebasnya “memberitahukan” apa yang bagus atau tidak buat lu. Gue juga jadi tahu bagaimana definisi cantik itu sangat beragam di belahan dunia lain. Dan bagaimana tidak adilnya masyarakat menghakimi mereka yang berbeda dengan definisi itu.

Sekarang? Gue cinta banget sama tubuh gue. Warna gelap yang tidak rata, lemak di berbagai bagian tubuh, rambut berantakan lurus gak ikel gak, dan semuanya! I think loving your body  and eventually your whole self membuat hidup lu semakin bahagia, lepas, worry-free, dan hal positif lainnya.

Selama gue bahagia dengan diri gue sendiri dan gue sehat walafiat. Bodo amat dengan segala macam ucapan “Gendutan, Rin!”, “Itu tangan sama kayak gede paha gue,”.

Membebaskan tubuh dari kurungan pikiran  yang dibuat orang lain itu sangat melegakan. Because I am my own subject in my life. And so are you, girls.

Advertisements