Pengingat #234

“Apa kabar mimpimu membuka warung kopi?”

Tanya seorang teman di satu malam ketika kami sedang asyik duduk sambil meminum kopi.

Aku terhenyak. Aku rasakan posisi dudukku berubah menjadi tegak. Bukan tanpa alasan. Pertama, aku sendiri lupa pernah memiliki mimpi itu dulu sekali. Kedua, kok bisa-bisanya malah orang lain yang mengingatnya? Apa ini faktor umurku yang baru saja bertambah?*lebay*

Kuambil gelas berisi es kopi vietnam yang kupesan satu jam lalu. Tinggal seperempat isinya. Kuaduk perlahan dan membiarkan temanku menunggu jawabanku.

“Entahlah, aku  malah tidak ingat pernah bermimpi punya warung kopi.”balasku sekenanya sembari tertawa.

Sebenarnya di dalam kepalaku sudah banyak amunisi alasan yang siap kutembakkan. Aku sibuk kerja. Belum ada modalnya. Kayaknya aku enggak bakat bisnis. Dan seribu alasan lainnya.

“Ayolah, kamu kan penikmat kopi.”sambung temanku lagi. Sepertinya dia tidak puas dengan jawaban singkatku sebelumnya. Kopi latte pesanannya sudah lebih dulu habis. Dia juga sama sepertiku, menyukai kopi. Aku rasa selain kopi kami tidak berbagi kesamaan lain. Hanya Tuhan yang tahu mengapa dulu kami sempat tertarik satu sama lain.

Aku lagi-lagi cuma bisa tersenyum tipis.

Bertemu dengan teman lama itu seperti naik kereta menuju stasiun bernama waktu lampau. Ada saja cerita masa lalu yang tidak pernah lupa untuk diceritakan kembali. Mengulang memori satu persatu. Sekaligus mengingatkan seperti apa kita 10 tahun yang lalu dan mimpi-mimpi kita dulu yang sekarang terlupakan.

..and then it hit me.

Damn. Time really flies so fast.

Advertisements