how would you want your kids to be raised?

That question raised during a night talk between me and a friend.

Saya belum menikah, belum tahu kapan, pun dengan siapa jangan ditanya. Tapi kalau ditanya bagaimana kamu ingin membesarkan anak-anakmu nanti, saya akan menjawab, seperti orangtua saya membesarkan saya. I am blessed to have a parents like mine. Mereka bukan orangtua yang memiliki harta melimpah, juga bukan tidak pernah melakukan hal-hal buruk. Tapi mereka selalu memastikan kalau anak-anaknya selalu mendapatkan yang terbaik.

Misalnya, ketika teman-teman sekitar mereka sudah sibuk mengemong cucu, orangtua saya malah mendorong saya dan kakak untuk cepat-cepat melanjutkan sekolah. Tidak peduli anaknya akan pergi jauh asalkan mendapatkan pendidikan di sekolah yang terbaik. Yah, walau ada drama juga sih setiap kali pembicaraan soal sekolah itu. But then again, they just show they are truly care about our personal accomplishment when everyone else only care about when-are-you-going-to-settle-down or how-many-kids-you-have.

Atau ketika mama saya  melakukan hal-hal yang kadang membuat saya malu. Semisal saat mama mengajak ngobrol empat bocah yang baru pulang sekolah di angkutan umum sembari memberikan sedikit wejangan buat mereka. Lalu obrolan itu terhenti karena mereka harus turun dan mama saya berteriak ke supir angkutan kalau dia yang akan membayar ongkosnya. Saya cuma bisa menahan ketawa melihat tingkah mama saya. Ia memang suka sok akrab dengan orang asing. But I learned from her that we should be caring toward everyone else with no exception even to a total stranger. Like God asks us to do.

Saya juga belajar banyak dari papa. Papa yang tidak pernah memaksakan kemauannya sendiri. Papa yang lebih sering memilih diam setiap orang lain memancing perdebatan. Papa memang bukan orang yang mudah lepas emosinya. Bahkan saya tidak ingat pernah mendengar papa berteriak marah di rumah. Yang saya ingat justru ketika dulu sewaktu saya masih SMA dan pulang tengah malam. Ia tidak marah tapi cuma berdiri dari kursinya, tangan dilipat, dan bilang ‘Sudah puas mainnya?,’. Lalu langsung masuk kamar. Demi Tuhan itu saya sebenarnya ketakutan setengah mati. Haha. Setelah itu untuk beberapa waktu lamanya saya tidak berani macam-macam. Dari caranya itu saya tahu kalau kekerasan tidak selalu ampuh digunakan sebagai cara untuk mendapatkan hal yang kita mau.

Orangtua saya juga mengajarkan bagaimana bertumbuh tua bersama  dengan menyenangkan. Bukan berarti mereka tidak pernah bertengkar. Bukan juga mereka selalu memperlihatkan betapa mesranya mereka berdua. Tapi mereka memiliki hubungan yang membuat saya ingin memiliki hubungan yang sama kalau nanti saya menikah. Mama yang selalu mendukung papa saat masih aktif bekerja dan setelah pensiun. Papa yang tahu kapan harus berbicara kapan harus diam. Their inside jokes that both annoying and sweet. That is a lifetime partner should be like. That is true love.

Jadi, kalau saya kembali ditanya pertanyaan serupa. “Bagaimana kamu akan membesarkan anak-anakmu nanti?,”Saya akan dengan cepat dan bangga menjawabnya: “Seperti papa dan mama saya,”

Lantai 12, Mei 2015.

Advertisements