stasiun

Gondangdia

Gondangdia

Jesse: Alright, I have an admittedly insane idea, but if I don’t ask you this it’s just, uh, you know, it’s gonna haunt me the rest of my life

Celine: What?

Jesse: Um… I want to keep talking to you, y’know. I have no idea what your situation is, but, uh, but I feel like we have some kind of, uh, connection. Right?

Celine: Yeah, me too.

Jesse: Yeah, right, well, great. So listen, so here’s the deal. This is what we should do. You should get off the train with me here in Vienna, and come check out the capital.

Celine: What?

Jesse: Come on. It’ll be fun. Come on.

Setiap berada di stasiun aku selalu teringat dengan satu adegan di film Before Sunrise. Ketika Jesse, wisatawan dari Amerika yang sedang berlibur di Vienna meminta Celine, mahasiswi asli Perancis untuk turun di stasiun berikutnya. Untuk apa? Untuk menghabiskan satu malam untuk bersamanya.

bagi orang kebanyakan mungkin akan menganggap ajakan Jesse itu sebuah niat buruk. Bisa jadi Jesse itu seorang psikopat. Atau perampok ulung yang memang mengincar turis. Bisa juga Jesse itu Turis gila yang hanya ingin meniduri perempuan asing dalam liburannya untuk kemudian diceritakan kepada teman-temannya. Semacam pengakuan betapa jantan dan memukaunya dia sewaktu muda dulu.

Tapi bagi Celine ajakan itu lebih dari sekadar ajakan tidur semalam. Itu adalah ajakan yang (mungkin) merubah hidupnya. Meskipun bahagia sepertinya belum diberikan sutradara untuk Celine di film pertama itu. Ia harus menunggu setidaknya 9 tahun, terpisah jauh dan parahnya tanpa kabar sama sekali, untuk bisa kembali bertemu dengan Jesse -yang akhirnya menjadi jodohnya.

Dari film itu membuatku berpikir hidup itu mirip sebuah perjalanan.  Berhenti dari stasiun ke stasiun. Kita tinggal memutuskan di stasiun mana kita akan berhenti. Berapa lama kita mau menetap disana. Apakah untuk sementara atau untuk seterusnya,

Banyak orang selalu berkesiap setiap kereta mendekati stasiun berikutnya.  Seakan takut terlambat turun dan pintu kereta keburu menutup. terburu-terburu sampai mereka tidak bisa menikmati perjalanan selama berada di kereta. Bukankah hal itu yang terpenting dalam sebuah perjalanan? Bukan tujuannya, bukan tempatnya, tapi menit demi menit yang kita habiskan untuk menuju ke sana.

Menurutku sebuah perjalanan juga semestinya tidak terlalu direncanakan. Biarkan saja mengalir apa adanya. Karena bisa jadi justru kita melewatkan banyak momen yang jauh lebih berharga dari rencana yang sudah tersusun rapi. Celine contohnya. Kalau saja dia tidak mengikuti instingnya dan “conform” dengan prasangkanya maka Jesse hanya akan menjadi pria gila yang ditemuinya di kereta.  Dia akan kehilangan seorang teman hidup yang bisa menjawab setiap pertanyaan yang ada di kepalanya.

Sejujurnya aku lebih suka jika film itu tidak berakhir bahagia.  Karena memang tidak setiap perjalanan memiliki happy ending selayaknya film romantis. Di kehidupan nyata Celine bisa saja menjadi korban perampokan dan pemerkosaan. Lagian hey, siapa sih yang masih mau pergi dengan orang yang benar-benar baru dikenalnya?

Tapi apapun itu kemungkinan terburuk yang bisa terjadi setidaknya ia berani mengambil keputusan. Entah apa hasilnya itu urusan belakangan. Berhentilah kalau memang ingin berhenti bukan karena takut tertinggal atau karena orang lain juga memilih untuk turun di stasiun itu.

Sebab, perjalanan tidak melulu mengenai tujuan tapi bagaimana waktu yang dihabiskan untuk bisa tiba di tujuan. Dan siapa tahu sang Sutradara memiliki rencana yang jauh lebih besar dari yang sudah kita rencanakan, kan?

Stasiun Gondangdia, 10 Februari 2015.

Advertisements