Enklave

Hampir tiga tahun aku mengenalmu. Tidak melulu selalu kamu di kehidupanku. Kadang ada dia, atau dia. Pun jumlahnya aku tidak tahu.

Kisah kita bukanlah kisah cinta, kataku. Lalu apa bisa kita sebut ini. Menurutku tidaklah perlu menjadikan genap kalau memang tidak bisa.

Lagipula aku tidak ingin menjadi satu yang membuatmu menjadi genap. Aku bukanlah bilangan yang akan melengkapi perhitungan matematikmu. Bukankah hidup akan menjadi membosankan ketika semuanya terlengkapi sempurna tanpa cela?

Sepertinya aku bisa mendengar kamu mendengus sebal.

Kamu tahu, aku selalu suka memperhatikan gerak gerikmu saat berbicara. Sorot mata yang penuh dengan keyakinan. Kedua tangan yang bergerak cepat pertanda kamu bersemangat.

Aku sering membayangkan tangan itu melingkari tubuhku setiap malam. Memberikan rasa nyaman yang tidak bisa kudapatkan dari pria manapun.

Kamu itu enklave buatku, katamu. Tempatku berpulang setelah bertarung dengan bajingan bangsat bernama ibukota.

Aku tidak pernah memintamu untuk kembali, kataku. Betapun aku ingin menjadi bilangan yang menggenapkanmu. Aku tahu tempatmu menetap bukanlah disini. Dimana kamu bisa terbang menebas langit kebiruan atau melawan derasnya arus sungai. Disitulah kamu semestinya berada.

Aku ini pelacur. Hidup dari mani ke mani manusia. Di dahiku tertempel label pendosa. Tidak akan pernah hilang. Mau aku menyisihkan uang berjuta-juta pun.

Kenapa mukamu jadi masam begitu.

Aku benar-benar mencintaimu, katamu.

Tidak. Kamu tidak mencintaiku. Kamu mencintai konsep yang kamu miliki tentang aku. Semisal atribut pelacur tidak ada padaku melainkan perempuan biasa yang menanti pria biasa untuk melamarnya. Kamu tidak akan melirik sedetikpun.

Bagimu aku hanyalah imajinasi atas kehidupanmu yang serba teratur. Aku adalah chaos dalam keberaturanmu. Yang membuatmu bersyukur memiliki kehidupan membosankan seperti sekarang ini.

Kenapa kamu masih ngotot menamai hubungan kita. Bukankah segalanya lebih mudah seperti saat ini. Kamu datang, aku membuka pakaian, tanpa tertutupi apapun dan kita saling bertukar desah tanpa berpandangan.

Hey, kenapa kamu tiba-tiba menciumku?

Sabang, 5 September 2014.

Advertisements