Berjuang, entah untuk apa

 

Pagi itu terik. Aku dan kakakku sudah sejak pukul 5 pagi berdiri di lampu merah.

”Kak, tadi kamu lihat enggak ibu-ibu  di mobil sedan itu?”
”hmm?”
”Ibu itu kayaknya direktur perusahaan ya. Habisnya handphone yang dipegang sampai ada 3. Yang satu yang kayak talenan itu loh kak,”
”tablet maksudmu,”
”iya, itu.”
”yah, namanya juga orang kaya, dek. HP enggak cukup satu, tapi kalau sekadar kasih uang seribu pasti ada seribu alasan untuk enggak ngasih,”

Suka aku memperhatikan perilaku orang-orang kaya itu. Kadangkala sampai aku dihardiknya karena terlalu lama berdiri di kaca samping mobil mengkilatnya. Padahal aku berdiri bukan karena menanti diberi, tapi aku mematung membayangkan betapa asyiknya jika bertukar hidup sehari saja dengan mereka. Dari aku yang berpakaian kumal berganti ke aku yang berganti-ganti pakaian berbeda selama 30 hari. Dari makan nasi bungkus berlauk tempe orek ke restoran cepat saji tiap harinya.

Dari lampu merah ini aku juga suka membayangkan apa yang ada di pikiran orang-orang yang tinggal di kota serba riuh ini. Ketika menginjak gas mobil sedan kencang-kencang di pagi hari padahal jalanan penuh sesak. Atau saat aku diajak kakak mengemis di stasiun dan melihat penumpang kereta yang harus rela berjejalan seperti ikan salmon terperangkap dalam jala pemancing. Apa yang mereka cari tiap harinya? Apa yang membuat mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam di jalan?

”Apa mereka bahagia, kak?”
”Tentu saja. Tidak harus kepanasan di pinggir jalan, makan enak tiap akhir pekan, plesir habiskan jutaan. Bagaimana bisa mereka tidak bahagia?,”
”Tapi aku lihat tiap pagi di hari Senin muka mereka kebanyakan merengut. Sepertinya tidak suka harus kembali bekerja.”
”ah, kamu suka nanya hal yang susah.”

Kata kakak, dia sering bermimpi punya uang segudang. Dua gudang kalau bisa. Biar bisa membelikan emak dan aku apartemen di tengah kota. Pindah dari tempat tinggal kami di bantaran rel kereta api. Tidak perlu was-was dengan isu penggusuran yang santer terdengar sejak sebulan terakhir.

Tapi aku  benar-benar tidak paham dengan penjelasan kakakku. Kalau mereka memang bahagia dengan kehidupannya, kenapa jarang sekali aku melihat mereka tertawa dari balik jendela mobilnya? Rasa-rasanya malah aku dan teman-teman pengemis lainnya yang lebih sering tertawa dibandingkan mereka. Panas-panasan di siang bolong. Tidak peduli mau makan apa nanti malam. Tapi kami bahagia, itu sudah cukup.

”Kak, kakak jangan jadi kaya, ya”
”ih, kamu makin ngelantur ngomongnya,”
”iya, adek enggak mau kakak punya banyak uang dan berakhir seperti ibu-ibu di mobil sedan tadi.”
”memang kamu enggak mau punya mainan mobil-mobilan yang ada mesinnya?bukan dari kayu bekas?”
”yang bisa bikin adek bahagia itu kumpul sama emak dan kakak. Bukan mobil-mobilan, bukan makanan restoran. Adek enggak mau kakak jadi robot, kerja dari pagi sampai malam tapi hanya bisa mengeluh. Punya uang banyak bisa ke luar negeri tapi tidak bersyukur. Kalau begitu untuk apa jadi kaya?”

Lampu merah kembali menyala. Dan pertanyaanku berakhir tanpa pernah ada jawaban.

 

*Menteng, sembari menunggu kehadiran yang mulia terhormat bapak Presiden ke-7.

Advertisements