baca, yuk!

Buku Puthut EA, soal biografi tiga perupa yang lagi saya baca

Buku Puthut EA, soal biografi tiga perupa yang lagi saya baca

 

Dua hari lalu aku melongok ke kamar kerja. Di rak bukunya terlihat deretan buku yang masih sama dari tahun lalu.

Aku lupa. Mungkin hampir satu tahun lalu aku pernah membuat janji dengan diri sendiri. Untuk membaca buku setidaknya satu buku perbulan. Tapi nyatanya? Buku yang mau kuselesaikan beberapa bulan lalu masih rapi terusun di pojokan kamar.

Entah kenapa. Belakangan membaca memang menjadi hal yang sangat mewah. Rasanya selalu saja ada hal yang membuatku batal untuk melahap habis buku baru. Terlewat lelah setelah bekerja seharian penuh. Pas ada waktu senggang aku cuma mau tidur, tidur, tidur, dan makan.

Atau mungkin karena tiap harinya aku ‘harus’ melahap sebanyak-banyaknya tulisan. Demi pekerjaan. Itu yang membikin nafsu membacaku berkurang. Semacam muak membaca kalimat-kalimat tersusun apik.

Pernah juga aku menyalahkan sabak digital yang aku beli satu setengah tahun lalu.

Atau sebenarnya aku yang selalu menemukan alasan untuk tidak membaca buku?

Hmm..kayaknya ini waktunya beli buku baru.

Semoga enggak sekadar berakhir di rak buku lagi.

Amin.

Advertisements