Koalisi Korupsi

Image

 

Saya termasuk ke dalam kelompok orang yang skeptis dengan politik di Indonesia. Hampir muak rasanya mengetahui kemunafikan partai politik. Coba saja lihat. Ada satu partai Islam besar yang sempat mengalami konflik internal karena ketua umumnya keburu mendukung satu calon tanpa sowan ke partai. Setelah drama beberapa episode akhirnya malah memberi dukungan ke partai yang tadinya jadi sumber masalah itu.

 

Lalu ada lagi partai tua yang tebar pesona ke setiap partai. Satu hari makan siang bareng si A, eh, keesokan harinya pedekate ke B. Terus ada juga partai yang belum menentukan posisi. Enggak beda jauh lah sama remaja, labil.

 

Pada pemilihan legislatif kemarin saya menggunakan hak politik saya. karena saya tahu dan percaya masih ada orang-orang baik di ratusan calon itu. Tapi mendekati 9 Juli kok ya rasanya saya semakin ragu.

 

Entahlah. Bagi saya, semulia apapun program yang diusung para partai dan calonnya ke depan itu semua akan percuma. Mau disebut koalisi atau kerjasama yang mengedepankan kepentingan bangsa kek. Saya yakin ujung-ujungnya pasti akan ada pertukaran. Proyek, posisi, pengamanan isu, semuanya akan berujung ke fulus.

 

Saya mah enggak bakalan heran kalau dua-tiga tahun lagi Komisi Pemberantasan Korupsi bakalan kembali ramai dengan kasus korupsi di politisi. Anak si menteri dari partai anu terjerat kasus korupsi. Atau, pejabat anu mengaku dikenalkan oleh ketua umum partai ono untuk menggolkan proyek situ.

 

Tunggu saja, saya berani tahuran. KPK nanti akan ramai oleh praktik korupsi yang dilakukan beramai-ramai oleh koalisi –ataupun kerjasama.

 

Lantai 12, 15 Mei 2014.

Advertisements