Iya sih, tapi..

Beberapa hari lalu saya mendengarkan curhatan seorang teman perempuan. Sebut saja namanya Bunga. Kami bicara perkara hati, lebih spesifik lagi soal menjaga hati.

Dia pun bercerita kalau pasangannya kerap mengeluarkan kalimat tidak sopan ketika mereka bertengkar. Memang tidak selalu, sih. Tapi nyaris tiap kali mereka beradu argumen si pria akan mengeluarkan kata-kata yang berhubungan dengan kebun binatang ataupun mengumpat yang diarahkan ke Bunga.

Bunga kini limbung. Sebab, mereka berdua tengah merencanakan untuk menikah di tahun ini. Ia takut kalau-kalau si pasangannya nanti bisa berbuat lebih dari sekadar mengumpat. Menggunakan kekerasan fisik, misalnya. Apalagi Bunga juga tipikal yang lebih suka mengeluarkan emosinya saat itu juga ketimbang menahannya.

Saya sebagai seorang teman hanya bisa memberi pendapat, bukan saran, apalagi menyuruh Bunga memutuskan hubungannya. Soalnya, cerita yang sama juga pernah saya dengar dari teman saya yang lain. Pada akhirnya hubungan mereka kandas. Tapi sebelum  menemui  ujung mereka lebih dulu melewati berbagai kejadian yang menguras tenaga. Belum lagi kalau berbicara soal hubungan yang sudah melibatkan kedua keluarga. Ribet.

Perempuan kerap kali tidak sadar, entah karena tertutup perasaan atau apa, kalau apa yang dialaminya itu merupakan salah satu bentuk kekerasan. Bukan berarti mereka tidak tahu, loh. Kedua teman saya itu paham betul dengan definisi kekerasan. Mereka juga tahu kalau kasus seperti itu juga dialami banyak perempuan lainnya.

Lalu mengapa?

Perempuan menurut saya memang cenderung permisif. “Iya sih, tapi kan dia udah minta maaf,” atau “Dia janji kok enggak akan mengulanginya,”. Ada lagi sederet ‘pemaafan serupa’. Tapi nyatanya banyak pria seringkali menggunakan kelemahan itu untuk mengulangi kesalahan berulang. Dari pengakuan teman-teman pria saya mereka memang terkadang hanya meminta maaf tapi tidak segan mengulangi perbuatannya. “Cewek gue gampang, tinggal dibujuk dikit, diemin sehari dua hari, nanti juga ambekannya ilang,”kata seorang teman.

Alasan lain yang lebih parah lagi itu adalah justru si perempuan yang menyalahkan diri atas perlakuan buruk yang diterimanya.  Syukurnya si Bunga tidak merasa seperti itu. Saya tidak bisa membayangkan betapa buruknya perlakuan si pasangan sampai self-esteem perempuan menjadi begitu rendahnya. Duh, apa jadinya kalau hubungan macam itu harus dijalani bertahun-tahun atau seumur hidup seperti semestinya sebuah pernikahan itu berjalan.

Perempuan juga biasanya suka berharap kalau suatu hari pasangannya akan berubah. Superman’s syndrome kata teman saya sekali waktu. Di tiap-tiap orang memang memiliki hasrat untuk bisa merubah seseorang  menjadi lebih baik  (atau seperti yang diharapkan). Saya tidak tahu sih apakah contoh kasus yang berhasil itu lebih banyak atau tidak. Saya juga masih percaya kalau kesempatan kedua itu adalah hak semua orang. Tapi, kalau sudah terjadi berulang kali lebih baik menjadi realistis ketimbang optimis. Iya, kan?

Saya beruntung tidak pernah berada di satu hubungan yang destruktif ketimbang konstruktif macam itu. Saya juga tidak bermaksud menggurui.

 But lemme put it this way. If you do not want someone else, dont you think you deserve better treatment?

Sabang, 12  Maret 2013.

Advertisements