Namaku Perempuan

Perkenalkan, namaku Perempuan.

Aku lahir dari rahim yang seumur hidupnya hanya mengenal dapur dan melahirkan bayi-bayi prematur. Dari rahim yang sama itu pula aku belajar bagaimana caranya hidup di dunia yang dipenuhi dengan laki-laki ini. Waktu aku masih ada di dalam kandungan ayahku hanya sekali menyentuhku. Begitu dokter menyatakan aku berkelamin seperti perempuan yang tubuhnya aku hinggapi beliau enggan untuk menengokku.

Pemilik rahim berusaha membuatku tabah. Kata dia, ayah menyayangiku, tapi tidak sama seperti rasa sayangnya ke janin-janin berkelamin beda denganku. Aku, janin yang berusia 9 bulan hanya bisa menggeliat di dalam. Tapi aku tahu, kalau pemilik rahim tempatku berlindung ini sedang menangis. Aku tahu, karena detak jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya dan akupun ikut meneteskan air mata.

Perkenalkan, namaku Perempuan.

Umurku menginjak enam tahun. Oleh ayah aku ditempatkan di kamar belakang bersama ibu. Sementara dua kakak laki-laki diperbolehkan menempati rumah bagian depan. Pernah aku ingin bermain bersama mereka di halaman depan rumah bersama mereka. Kedua kakakku, yang tertua berumur 12 tahun dan yang kedua berumur 9 tahun, sedang asik bermain mobil balap. Tapi baru sebentar aku melihat mereka menyalakan mesin tamiya baru miliknya dari dalam rumah aku dipanggil ayah. Kata beliau aku diminta untuk menemani ibu di dapur. Jangan ganggu kakakmu, kata beliau keras dari balik korannya tanpa melihat ke arahku.
Dari situ aku paham, kalau tugasku hanya menemani ibu sedangkan kakakku bisa bermain dan begitu lelah mereka tinggal merengek kelaparan ke ibu.

Perkenalkan, namaku Perempuan.

Aku bersekolah tingkat lanjutan atas di kota kecil ini. Baru tingkat pertama. Tadinya oleh ayah aku disuruhnya untuk masuk ke sekolah kejuruan saja. Jurusan tata boga katanya. Untuk membantu bisnis rumah makan miliknya nanti. Apalagi kalau bukan hanya menjadi koki. Kata beliau, perempuan itu lebih pantas bekerja di dapur saja. Urusan keuangan dan bertemu klien biar diserahkan ke kedua kakakku yang menurutnya lebih piawai dan terpercaya. Sebab, aku dilihatnya seperti ibu. Hanya bisa menunduk mengucapkan setuju atas semua pernyataannya. Padahal, yang dibutuhkan untuk mengembangkan bisnis adalah orang yang memiliki kemampuan memimpin dan keberanian berpendapat juga mengambil keputusan.

Ingin rasanya aku membuka suara dan lantang mengatakan ke ayah kalau aku memiliki kemampuan itu. Di sekolah aku selalu menjadi juara untuk pelajaran akuntansi juga matematika. Guruku bahkan merekomendasikan aku untuk kuliah dan mengambil jurusan kedokteran. Bayangkan, aku menjadi dokter!

Tapi mungkin benar kata beliau, aku mungkin memang mewarisi sifat ibu; hanya bisa menerima segala penilaian atas diriku dan menelannya bulat-bulat tanpa mampu mendebatnya.

Perkenalkan, namaku Perempuan.

Aku sudah lulus dari sekolah menengah atas. Tapi berbeda dengan kedua kakakku yang langsung diterbangkan ayah ke luar kota untuk kuliah. Aku masih berada di rumah, di kamar bagian belakang tempatku menaruh harapan sejak kecil. Kali ini kamarku penuh hiasan bunga-bunga. Di tanganku juga ada hiasan serupa dari untaian bunga melati. Mukaku penuh dengan warna, diberi bedak warna putih pucat hingga ke leherku yang jenjang. Aku terlihat dewasa, kata ibuku. Sudah pantas untuk dilamar pemuda mapan dari kota besar.

Semestinya aku bahagia. Hampir semua teman-teman sekelasku yang perempuan juga sudah menikah. Bahkan beberapa di antaranya sudah ada yang menggendong bocah kecil dan memilih untuk berhenti sekolah. Bodoh sekali pikirku. Kalau memang hanya itu tujuannya, untuk apa kita bersusah payah sekolah tinggi-tinggi? Untuk apa para guru bersusah payah mengajarkan makna kemerdekaan kalau kita sendiri sebenarnya masih dipenjara dengan budaya seperti ini?

Lamunanku dibuyarkan ibu. Kata dia pemuda mapan itu sudah siap menanti di ruang depan. Ah!ruangan yang bahkan aku sendiri jarang menginjakkan kaki di sana. Aku diminta ibu untuk menebar senyum termanisku, tapi jangan berlebihan katanya. Sebab, hanya pelacur yang bebas bersolek dan menyeringai hingga pinggir bibirnya nyaris menyentuh telinganya. Mendengar ucapannya aku justru ingin menjadi bagian dari mereka. Mereka tersenyum karena mereka benar-benar bahagia, bukan karena itulah diharapkan orang lain untuk dilihat dari seorang perempuan, manis dan tahu menjaga sikap. Peduli setan suaranya menyalang. Aku bahagia dan itu tidak ada yang melarang.

Pernah aku keceplosan mengucapkan hal itu ketika ayah sedang berdikusi dengan teman-temannya. Dari dapur sayup-sayup aku mendengarayah sebut mereka sebagai kelompok penuh dosa dan pasti masuk neraka itu. Ayah beranggapan hanya mereka yang menjual kelaminnya yang berdosa, sedangkan mereka yang membeli disebutnya khilaf dan pantas diberikan ampunan. Mungkin juga itu doa yang selalu ayah rapal di tiap malam-malam setelah ia kembali dari kawasan yang dipenuhi kembang penuh duri itu. Pipiku memerah merasakan tangan kasar ayah. Disuruhnya aku kembali ke belakang. Itulah akibatnya kalau memiliki anak perempuan yang disekolahkan tinggi-tinggi, tidak tahu ada dan mana yang baik atau buruk.

Perkenalkan, namaku Perempuan.

Aku merasakan ada yang bergerak dalam perutku. Seperti keajaiban Tuhan. Aku bisa merasakan malaikat kecil ini menendang-nendang. Kencang sekali. Dokter bilang kamu berjenis kelamin perempuan. Kamu tidak tahu betapa bahagianya aku, nak. Walau seluruh orang mencacimu karena ayahmu tidaklah jelas rimbanya. Bahkan kakekmu sendiri tidak mau mengakui keberadaanmu. Orang yang mengenalkan aku ke lelaki pemburu nafsu itu menyalahkanku dan ibu karena terlalu mudah menyerahkan diri.

Tenang, nak. Aku tidak akan membiarkanmu diterkam budaya laki-laki, anakku sayang. Aku akan membiarkanmu tumbuh bebas. Kalau kamu ingin menjadi dokter maka jadilah, atau menjadi insinyur maka pilihlah jalan itu. Aku hanya ingin kamu menjadi pemberani. Tersenyum dan tertawalah selepas dan sebebas yang kamu inginkan.

Hanya satu pesanku, anakku sayang. Apabila kelak kamu ditindas, bersuaralah! Apabila kelak kamu direndahkan, lawanlah!

Warungkopi daerah Sabang, 23 Desember 2013

Advertisements