Waktu Kelulusan

Empat tahun lalu di bulan yang sama saya merasakan hal serupa seperti hari ini, cemas. Tepatnya itu rasa cemas mendapat jawaban lolos atau tidaknya saya sebagai wartawan Tempo. Jujur saja, tidak pernah terlintas saya akan terjun ke dunia jurnalistik. Saya hanya senang menulis dan tidak menyukai jika harus terpaku di meja seharian. Beruntung, doa saya didengar Tuhan.

Sekarang sudah nyaris genap empat tahun saya menjalani profesi sebagai wartawan. Banyak cerita membawa  tawa terkadang tangis. Di pekerjaan ini, dengan berbagai tuntutannya, membawa saya ke sudut pandang yang berbeda dalam melihat berbagai hal. Tidak ada yang benar atau salah, hitam atau putih, semuanya mengabu. Tidak ada netralitas murni, adanya keberpihakan pada yang benar. Bahkan yang benar itu juga belum pasti.

Berjalan ke angka empat hidup saya terasa penuh. Bertemu banyak orang yang memberikan banyak pengaruh ke pemikiran saya soal hidup. Menyadarkan kalau saya masih jauh sekali dari sebutan ‘pintar’ karena banyak hal yang belum diketahui. Mendapatkan kesempatan yang tidak semua orang bisa dapatkan. Menguji banyak batasan kemampuan saya walau harus babak belur dulu.

Mungkin banyak yang bertanya mengapa saya memutuskan keluar. Pernah meliput isu korupsi, kesehatan, pendidikan, tenaga kerja, ekonomi, gaya hidup, rasa-rasanya tidak ada tempat belajar lain yang lebih baik dari tempat ini. Tapi, ini saatnya untuk pergi mengemas buku-buku saya. Masa sekolah saya di Tempo sudah selesai dan memasuki waktu kelulusan. Semua pelajaran dan kenangan akan saya jaga baik-baik.

Saya tidak akan menyesal dengan keputusan keluar dari zona nyaman ini. Hidup, apapun itu rupanya, bukan untuk disesali tapi dijalani sebaik-baiknya.

Saya sangat berterimakasih atas semua pelajaran yang begitu berharga. Terimakasih juga untuk jalinan persahabatan yang tidak pernah gagal menguatkan saya menghadapi persoalan. Saya sangat bangga pernah menjadi bagian dari Tempo.

 

Wartel Velbak, 23 November 2013.

Advertisements