Satu mimpi dari sekian banyak mimpi

Image

Ada satu dari banyak hal yang ingin aku lakukan sebelum mati: mendaki gunung. Menurutku dalam menjalani hidup setidaknya harus mencoba hal yang menguji batas kemampuan kita. Konon katanya mendaki itu menguji semua sisi manusia kita. Kekuatan fisik, keberanian, dan terutama mental. Selain itu aku juga tidak mau menua dengan meninggalkan rasa penasaran karena tidak berani melakukannya. Hidup cuma sekali,  sayang kalau kita melewatkannya, kan?

Mungkin mimpi ini berawal dulu sekali sewaktu aku kecil. Ketika di satu malam aku terkulai lemas di kamar mama karena demam tinggi. Padahal besok pagi sekali teman-temanku dari kelompok Pramuka siaga Melati mau berkemah di Cibubur.  Walau menangis sekencang-kencangnya meminta untuk pergi tetap saja akhirnya aku dikalahkan kondisi badan. Malam itu aku berjanji ke diri sendiri: tidak peduli bagaimana pokoknya aku akan pergi berkemah dan naik gunung!

Tahunan pun terlewati. Aku percaya semesta memang bekerja dengan caranya sendiri terutama untuk orang-orang yang mempercayai hal itu. Aku bisa saja melupakan mimpi itu hingga belasan tahun atau bahkan sampai aku mati. Tapi akhirnya semesta memberikan jalan. Kemarin akhirnya aku bisa mendaki gunung yaitu Gunung Batur di Kintamani, Bali.

Kami berangkat pukul 04.00 untuk mengejar matahari terbit di puncak. Dibutuhkan setidaknya 1,5 jam untuk sampai ke sana. Sungguh, itu hal paling tersulit yang pernah aku lalui selama 26 tahun terakhir. Nafasku tersengal-sengal, kakiku mati rasa dan lecet akibat batuan tajam. Sementara temanku yang berjalan di belakang nampaknya biasa saja.

Beberapa kali terlintas untuk kembali ke pos awal. Daripada aku mati konyol di atas gunung, kan?

Setelah kira-kira jalan 20 menit kami berhenti. Aku pun menengok ke belakang. Pendaran cahaya dari Danau Batur terlihat dari atas. Cantik sekali walau masih diliputi gelap. Kami pun melanjutkan perjalanan. Semakin ke atas medan semakin curam, berpasir dan batunya tajam. Aku kali ini benar-benar kewalahan dan meminta berhenti tiap 10 menit. Payah, ya?

Namun, tiap kali aku berhenti dan melepas pandangan ke sekeliling rasa lelah itu berkurang dan semangatku bertambah. Semburat cahaya matahari pagi mulai mengintip dari balik gunung. Kami juga ditemani sekawanan awan yang berada dekat dari kami.

Lima menit lagi! Begitu kata pemandu kami menyemangati. Dengan nafas tinggal sejengkal aku mendongak ke atas. Aku berusaha menyemangati diriku sendiri sembari merutuki buruknya kekuatan fisikku. Tak lama kami sampai di puncak walau terlambat setengah jam dari rencana dan matahari oranye sudah lebih dulu tiba.

Rasa-rasanya aku sekarang mengerti apa yang dibicarakan oleh mereka yang sudah pernah naik gunung sebelumnya. Lelah pasti, tapi semuanya terbayarkan dengan pesona alam dari puncak gunung. Lagipula siapa yang bisa menolak suguhan alam istimewa yang membuat tiap penghuninya mampu diam hingga puluhan menit tanpa melakukan apa-apa?hanya mematung atau menyandarkan diri di barang bawaan. Kaki yang luka dan lelah tak lagi terasa.

Bagiku ini melebihi mimpiku waktu kecil dulu.

Sesaat aku melihat ke arah jalan setapak yang dilalui tadi. Masa iya aku tadi melewatinya? Seringkali aku meragukan kemampuanku sendiri. Belum lagi dilanda rasa takut yang hebat. Lalu aku tersadar, sebenarnya musuh utama kita bukan orang lain tapi pikiran kita sendiri. Kemungkinan gagal akan selalu ada tapi jangan lupa, kemungkinan berhasil juga mengikuti. Bukan juga soal hasil, tapi proses yang kita jalani aku yakin pasti selalu ada rahasia di dalamnya.

Oia, di ketinggian 1.717 m satu mimpi baru aku buat: ini bukan puncak terakhir yang akan aku lewati.

Kintamani, Minggu 1 Desember 2013.

*foto dari anobelodisho.com

Advertisements