Akil dan Mereka yang Menyesal Belakangan*

Akil Mochtar menangis. Entah karena tidak menduga aksinya akan tercium komisi antikorupsi atau karena malu. Ketua Mahkamah Konstitusi yang juga politikus itu tertangkap tangan menerima suap kasus pemilihan kepala daerah. Ia membantah, tentu saja. Mana ada maling yang mengakui perbuatannya, apalagi maling yang sempat berkata akan memotong jari bagi mereka yang ketahuan mencuri.

Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa penyesalan selalu datang belakangan, terlambat. Mungkin, itu juga ucapan yang pantas bagi para koruptor yang kini menuai hasil panennya di dalam bui.

Tidak sedikit pejabat tinggi publik yang terjerat kasus korupsi di negeri kita yang baru berulang tahun ke 66 ini. Masih ingat puluhan anggota dewan yang terseret kasus cek pelawat saat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom?Atau mega si tenar burung Nazar yang berhasil menyeret nama-nama papan atas seperti Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng.

Puluhan anggota dewan menerima amplop coklat berisi cek bernilai ratusan juta. Saat amplop ditangan tidak ada satupun yang menolaknya. Alasannya pun beragam. Untuk kepentingan partai, beli mobil mewah, beli apartemen, bayar biaya anggota keluarga yang sakit.

Tapi, mana tahu mereka kalau tak lama ada seorang dari komplotannya yang berkhianat dan lantas melaporkan tindakan busuk yang dilakukan bersama-sama itu.

Seakan berulang, mereka pun kembali sama-sama berkumpul dalam satu ruangan. Bedanya kali ini mereka tidak duduk di bangku mewah Senayan tetapi di kursi kayu sebagai pesakitan dengan cap koruptor yang mengikutinya kemanapun kaki melangkah.

“Saya menyesal majelis hakim,”. “Uang itu saya terima untuk membayar pengobatan anak saya,”

Kedua kalimat itu terus terdengar dari dalam ruang persidangan pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Terus-terusan sampai palu hakim diketuk menjatuhkan vonis penjara bagi mereka.

Perkara Nazar juga menjadi contoh betapa lemahnya kita di depan segepok uang. Sekretaris Menpora yang menunggu jalani persidangan selalu menenteng sajadah dan kitab suci Alquran. Seakan menunjukkan penyesalannya di depan aparatur penegak hukum dengan membawa-bawa agama. Sang direktur marketing nan cantik sosialita Rosa juga sama. Perempuan yang selalu terlihat modis di tiap persidangan itu kerap kali berkata-kata dengan suara bergetar, tertunduk menangis perlahan. Akil hanya bisa tersenyum pahit, mungkin mengingat karirnya yang dibangun puluhan tahun sekarang hanya tersisa malu, mungkin juga takut dengan desakan potong jari.

Kemana keoptimisan suara mereka tiap kali melakukan lobi-lobi depan klien itu? Kemana suara lantang Akil di setiap sidang perkara ataupun ketika ia berang tiap kali ditanyai mengenai kasus korupsi oleh pewarta? Sepertinya, semua itu lenyap begitu duduk di depan majelis hakim dengan cecaran pertanyaan demi pertanyaan.

Padahal, gaji mereka tiap bulan sudah jauh lebih cukup untuk bisa menikmati makan enak di restoran tiap harinya. Padahal, mereka sudah disumpah untuk berbakti kepada rakyat dan negara. Padahal, banyak orang yang menggantungkan nasib kepada mereka.

Selanjutnya segalanya mudah tertebak. Kini ataupun dalam waktu dekat, dari dalam jeruji besi mereka akan khusyuk berdoa. Seolah-olah vonis mati yang dijatuhkan, bukan vonis pidana penjara tahunan, memohon pengampunan yang Maha Kuasa. Merapal doa dengan tangis agar diampuni segala tindakannya selama masih memegang jabatan penting. Mereka menyesal. Sebab, memang hanya itu yang dapat dilakukan.

Yah, terkecuali ada yang mau menirukan Gayus. Melenggang dengan bebas keluar sel, jalan-jalan menikmati udara segar.

*tulisan di tahun 2011 yang diperbaharui.

Advertisements