Rumah

Sejak sepekan lalu di rumah saya tertumpuk tiga kotak kue nastar, kue putri salju, juga kue kacang. Kue kesukaan saya semasa libur lebaran. Pengeras suara dari masjid depan rumah juga semakin sering mengingatkan warga sekitar untuk menyisihkan penghasilannya untuk zakat fitrah. Bahkan rumah tetangga di kiri kanan daerah tempat tinggal saya sudah kosong ditinggalkan penghuninya yang menjalani rutinitas tahunan, mudik.

Itu suasana yang terlihat setahun sekali. Coba perhatikan, 90 hari sebelum lebaran banyak orang mulai ribut mencari tiket pulang. Ada yang nekat membeli tiket pesawat jauh sebelum dia tahu kapan kantornya mulai libur. Ada juga yang rela bermalam di stasiun hanya karena takut tertinggal kereta. Tidak sedikit juga yang rela meminjam uang kiri-kanan cuma agar bisa membeli tiket bus yang harganya naik empat kali lipat dari biasanya.

Saya tidak tahu dengan daerah lain, mungkin segala riuh-rendah lebaran seperti ini hanya ada di Jakarta. Tapi saya yakin apa yang dirasa di tiap hati semua orang pasti sama.

Di hari yang spesial itu kita selalu ingin pulang. Semahal apapun biaya yang harus dikeluarkan kita pasti selalu ingin menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah. Sebahaya apapun jalan yang harus dilalui dengan kendaraan beroda dua yang disesaki kardus berisi oleh-oleh untuk keluarga di kampung pasti tetap ditempuh. Selama apapun dan selelah apapun tubuh ini digempur perjalanan berbelas jam pasti hal yang sama rela kita lalui tiap tahunnya hanya untuk satu tujuan: pulang ke rumah.

Rumah bagi saya bukan rumah dalam arti bangunan dengan atap dan dinding yang memiliki taman luas. Bukan juga bangunan dengan ruangan yang bersekat dan di dalamnya terdapat tempat tidur, sofa empuk, lemari pakaian yang berantakan.

Rumah bukanlah ruang tapi sebuah konsep. Rumah itu tempat dimana rasa tenang itu membanjiri hati, hal yang memberikan rasa nyaman, menawarkan rasa sayang tanpa banyak meminta. Tempat yang kental dengan memori masa lalu yang penuh dengan harapan akan masa depan. Rumah itu pelukan orang-orang yang akan selalu menerima kita tanpa tanya dan sanggup meluruhkan lelah yang ada di kepala dalam setahun belakangan.

Rumah itu yang membuat kita selalu rindu dan ingin pulang. Yang selalu ada dan selalu ingat walau sering kita lupakan.

…dan terutama, yang selalu memberikan maaf jauh sebelum kita meminta maaf.

Selamat merayakan lebaran, mohon maaf lahir batin šŸ™‚

Advertisements