BRAK!

Sebenarnya aku malas menceritakan semuanya di sini. Tapi dokterku bilang aku harus sering-sering menulis, kalau enggan bercerita dengan orang lain. Dokterku juga berkata aku tidak boleh terlalu lama sendirian. Harus banyak-banyak keluar dan bertemu orang. Katanya itu membantuku untuk menyingkirkan pikiran buruk yang terus hinggap.

Eh iya, maaf, dokterku yang cantik dan masih muda itu punya nama. Dokter Ira dengan gelar Mpsi di belakang namanya. Hanya untuk bertemu dan berbicara dengan dia di tempat prakek pribadinya itu mahal sekali. Belum lagi berkotak-kotak obat yang harus ditebus tiap bulannya. Tapi demi bisa kembali normal lagi dari semua kekacauan – aku tidak suka dengan kata gila, aku rasa orang gila dimanapun juga tidak suka dengan sebutan itu – maka aku memilih untuk menceritakannya di sini.

 

Mungkin cerita ini bisa dimulai dari sore itu, ketika teman-temanku datang dan mengancam akan memandikan paksa. Soalnya, saat aku membukakan pintu apartemen keempat temanku terperangah. Aku terlihat berantakan dengan rambut berminyak, kemeja lecek tak karuan hanya mengenakan celana pendek dan teramat bau, kata mereka. Ancaman mereka semakin tidak masuk akal. Kalau perlu digendong lalu diceburkan ke kolam renang.

Tentu saja dengan cepat aku menolaknya. Malas, kataku. Lagipula kita harus mulai belajar hidup berhemat air bersih. Bumi sedang krisis, racauku lagi yang dibalas dengan mimik muka tidak percaya teman-temanku tersayang.

Meskipun begitu aku pada akhirnya menuruti mereka. Masuk ke dalam kamar mandi. Entah berapa lama waktu kuhabiskan di dalam sana karena dari luar teman-temanku menggedor pintu kamar mandi kencang sekali. Dipikirnya aku berbuat nekat melukai diri sendiri di kamar mandi. Bodoh sekali. Mana berani aku berbuat seperti itu.

Agar kalian tidak bingung mungkin aku akan bercerita sedikit soal kenapa aku sampai berada di kondisi seperti ini.  Sebelum kedatangan mereka sudah lebih dari dua pekan aku menyendiri di kotak kecil ini. Tak ada kegiatan berarti. Hanya makan, nonton, begitu terus berulang.

Dan teman-temanku. Mereka kebingungan melihat tingkahku. Tidak bisa dihubungi, begitu bisa dihubungi jawabanku hanya tertawa saja. Tidak ada apa-apa, aku baik-baik saja sendiri. Toh tiap kali ada masalah selama ini aku selalu berhasil melewatinya sendiri. Dua-tiga hari mereka termakan bualanku. Hingga akhirnya kedua orangtuaku menghubungi salah satu dari mereka. Sebab, sudah seminggu aku tidak memberikan kabar. Hilang begitu saja.

Adalah bosku yang pertama kali menyadari hilangnya semangat dari mataku. Pekerjaanku masih beres, sebetulnya. Tapi aku menjadi sangat sulit untuk dihubungi dan kerap melontarkan kata kasar ke teman kerjaku bahkan bosku. Karena ini baru terjadi pertama kalinya, kantor tidak memberikan surat peringatan, hanya menyuruh aku mengambil waktu istirahat. Aku pun meminta waktu istirahat dari kantor.  Sampai waktu yang tidak ditentukan.

Kalau kalian bertemuku saat itu kupastikan kalian tidak akan menduga banyak hal memenuhi kepalaku. Aku, seperti banyak orang mengenalku, tidak pernah absen mengurai senyum kapan saja. Bisa tertawa sangat kencang dan lepas dari semua canda. Tapi dari dalam, itu sebenarnya aku sedang berusaha meyenangkan diriku sendiri.

Tapi sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang terjadi yang membuat aku malas beranjak ke kamar mandi. Apa yang membuatku seperti mayat berjalan dengan jantung yang masih berdetak tanpa nada.

 

Kira-kira satu bulan lalu ada semacam meteorit sebesar buah leci yang berhasil meluluhlantakan duniaku. Meteorit itu datang sudah dengan ancang-ancang. Aku sebenarnya pun sudah membaca pertandanya. Tapi memilih untuk mengindahkannya. Ya, begitulah manusia bukan? Tidak akan jera sebelum meteor itu benar-benar jatuh menimpa dan merusak segalanya.

Aku terlalu terbuai oleh mimpi. Mimpi yang dirajut dari benang sulam keemasan. Cantik sekali. Tapi sejujurnya, aku bukanlah pemimpi yang baik. Mimpi bagiku adalah racun yang diam-diam menyusupi tubuhmu dan akan mematikan seluruh sarafmu. Semestinya aku tahu. Masa lalu itu tidak pernah benar-benar pergi. Dia menetap, meringkuk, di sudut kenangan. Bersiap untuk kembali lompat menyergap.

Tapi itulah aku. Makhluk bodoh yang tidak pernah belajar dari kesalahan. Cepat percaya dengan penjual mimpi penuh tipu daya itu. Sampai mataku sendiri tidak melihat kalau meteor itu sudah lima sentimeter di atas kepalaku.

Atau mungkin aku sesungguhnya menginginkan meteor itu tetap jatuh. Mungkin aku yang ingin pergi secepatnya. Menghilang berharap semua masalah juga turut serta. Jujur saja, pikiran menghabisi diriku sempat terlintas. Sayang aku kelewat pengecut untuk mengambil pisau dan mengiris lenganku atau loncat dari lantai 12 ini.

Ngomong-ngomong aku penasaran, apakah semua orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri juga merasa takut yang sama di detik mereka menarik pelatuk senjata atau meloncat dari gedung tinggi itu? Mungkinkah ketika mendekati akhir hidupnya mereka justru terpikir untuk kembali dan berjanji untuk memperbaiki semuanya?

Satu bulan setelahnya..

Kini sudah satu bulan setelah aku ditemukan teman-temanku dalam keadaan amat berantakan. Mereka membawaku ke dokter dan sekarang aku sudah kembali tenang. Benar kata dokterku. Seharusnya sudah sejak lama aku menuliskan semuanya disini. Seharusnya sudah sejak lama aku menemui psikiater.

Semua bebanku terangkat rasanya. Pikiranku tidak lagi merasa kacau justru tenang sekali. Juga ketakutanku yang hilang. Ketakutan yang dulu mencegahku untuk naik ke atas gedung ini. Menatap jauh ke ujung sana, mencabik tiap lapisan dinding gedung hingga sanggup melihat sosoknya meski hanya dari belakang.

Ah, apa ini perasaan yang begitu tenang ini merasuk ke dalam memenuhi diriku. Seperti ada tangan-tangan halus yang mengelilingiku. Berucap lembut di telingaku. Tenanglah anakku, begitu katanya. Apa ini yang mereka rasakan ketika jarak dengan beton keras hanya tinggal sesenti dari muka. Damai, pasrah, dan tidak ada lagi hantu dari masa lalu yang akan terus menemaniku.

BRAK!Image

Advertisements