Soal Hidup

Saya lahir dan besar di Jakarta. Terbiasa mendengar deru derap mesin di pagi hari dan klakson bersaut-sautan di petang hingga malam hari. Tinggal di kota besar seperti Jakarta membuat saya suka berjalan cepat. Takut terlambat mengejar waktu masuk sekolah dulu dan sekarang mengejar waktu wawancara. Melihat kendaran saling saling menyalip tak beraturan itu pandangan umum di mata saya. Mendengar sumpah serapah sesama pengguna kendaraan juga biasa di kuping saya.

25 tahun lebih hidup di ibukota mau tidak mau pola pikir saya juga terbentuk kekotaan. Pragmatis dan harus cerdik mencari alternatif kalau-kalau jalan yang tengah dilewati macet yang memang tidak bisa diprediksi. Waktu 24 jam dalam sehari pun serasa tidak cukup karena banyaknya hal yang harus dikerjakan sementara waktu banyak terbuang di jalan. Makanya, saya  memilih untuk tidak untuk mengeluh karena sudah tahunan tubuh saya mengerti kalau saya mengeluh maka saya akan bertambah jenuh.

Lalu ada teman saya satu ini. Dia lahir di kota yang penduduknya mungkin hanya sepertiga dari penduduk Jakarta. Pagi hari ia biasa mendengar mbok-mbok berteriak menggendong sayur mayur segar hasil kebunnya untuk kembali di jual. Suara mesin motor bising berganti dengan lenguhan sapi-sapi montok yang tengah diperah susunya tidak jauh dari tempat ia tinggal.

Teman saya ini hidupnya berjalan santai. Tapi dia memutuskan untuk mengadu nasib ke ibukota. Singkat cerita, teman saya terkejut. Ia berharap banyak dari perpindahannya ke Jakarta. Tapi ia tidak menduga kalau kota ini menyimpan begitu banyak bobrok. Lalu lintas dan pengguna kendaraan yang kacau balau. Orang-orangnya yang terbiasa sumpah serapah dan mau seenaknya sendiri. Belum lagi harus menjalani semuanya sendiri jauh dari keluarga.

Pernah terlintas di pikiran saya untuk pindah kota. Mencari tempat yang tidak bising. Sehari-hari tidak perlu terlalu lama berkutat dengan cacian warganya atau marah saat diselak dalam antrian. Pagi hari bisa menghirup udara segar dan malam harinya tidur nyenyak dengan udara sejuk yang datang bukan dari pendingin ruangan.

Ah, tapi kok sepertinya saya terdengar seperti menyerah. Lagipula Jakarta itu  tidak semuanya buruk kok. Banyak sisi-sisi menyenangkan dari kota ini kalau kita mau sebentar saja meluangkan waktu untuk membuang pikiran negatif tentangnya. Begitu juga orang-orangnya. Masih sering saya temui mereka yang memilih untuk bersikap santai menjalani hidup ketimbang mereka yang doyan menyalip atau mengklakson sembarangan.

Lalu kalau ditanya apa saya tetap  ingin menghabiskan waktu di kota ini? Hmm, saya sendiri belum tahu jawabannya. Mungkin, keinginan untuk pindah ke tempat yang lebih nyaman dan waktu tidak terasa cepat berlalu akan selalu ada. Tapi ya, kita lihat saja nanti. Toh, saya masih senang hidup di Jakarta 🙂

Kita tidak bisa memilih lahir dan besar di kota mana. Tapi kita bisa memilih untuk menjadi kuat dan mencoba beradaptasi atau menjadi pengecut lalu menyerah dan memilih untuk pulang.

Hidup itu toh cuma sekali, jadi ya nikmati saja dulu mau itu senang atau susah ~ tukang sayur dekat rumah yang sudah jualan sejak saya masih bayi.

 

Lagi menikmati pendaran lampu-lampu kota Jakarta di malam hari, 9 Mei 2013.

Advertisements