catatan random ke #123

Mendengungkan namamu seperti memainkan sebuah elegi yang terus bertalu dalam gendang sukma. Mengaduh gaduh selayaknya ketidakpastian dalam kepastian tatanan tatasurya dengan bintang berekor api panjang membakar setiap planet seukuran retina bola mata yang dilewatinya. Ada semacam inersia yang membuatku selalu ingin kembali ke sisimu yang penuh api itu. Menarikku lalu menghempas keras tidak berarah ke ruang hampa udara.

Katanya satu tambah satu sama dengan dua, formula yang pasti sepasti mati. Tapi aku tidak ingin menjadi satu yang membuatmu menjadi genap. Aku bukanlah bilangan yang akan melengkapi perhitungan matematikmu. Bukankah hidup akan menjadi membosankan ketika semuanya terlengkapi sempurna tanpa cela?

Aku ingin menjadi semestamu, menjadi chaos dalam keberaturan kehidupan yang membuatmu imbang. Aku bukanlah perempuan yang akan mencintaimu dengan nilai-nilai kewanitaan yang mereka gaungkan sejak hawa menjejak padang pasir tandus. Aku adalah bocah ingusan yang akan mencintaimu tanpa aturan, tanpa paksaan, sekuat-kuatnya. 

 

Advertisements