Gadis itu

waiting_for_you_by_edoaja1

…di jembatan itu, setiap pukul 7 malam

Dari arah utara terlihat sesosok gadis perlahan berjalan. Berpakaian satu lapis di tengah cuaca yang menusuk hingga sendi, Matanya terlihat menyusuri tiap inci sudut jembatan dengan teliti, memperhatikan setiap muka pejalan yang datang silih berganti.
Dengan kaki telanjang perlahan dia melangkah, mata bersinar penuh harap yang tertuju ke setiap arah. Seakan sedang menunggu datangnya seseorang dari ujung jembatan sana, untuk merengkuh dirinya masuk ke dalam pelukan

Tidak ada yang tahu siapa nama sang gadis, darimana asalnya dan alasan keberadaannya disana
ada yang berkata, si gadis telah kehilangan akal sehatnya. Pandangan sinis dilemparkan pada si gadis. Tapi si gadis tak menghiraukan. Ia tidak perduli atas apa yang dipikirkan orang banyak tentang dirinya. Ia hanya peduli pada sosok berpundak lebar berkulit cokelat yang ada di ingatannya selama tujuh tahun terakhir.

Pada pria yang dicintainya, yang berjanji kepadanya.

Di akhir jembatan langkah sang gadis pun terhenti,kepalanya mendongak ke atas,
lalu senyum tipis terurai dari wajah manisnya. Mulutnya pun menggumamkan satu kalimat, yang ia ulangi berkali-kali

“Dia berjanji untuk kembali,untukku. Dia berjanji akan kembali,untukku”

Kemudian sang gadis beranjak pergi. Tapi di raut wajahnya tidak satu detikpun terlihat keraguan
karena ia tahu, suatu hari nanti, dari ujung jembatan itu, yang ditunggunya akan datang

..untuk merengkuh dirinya masuk ke dalam pelukan.

***

…Jembatan itu, 7 Tahun Lalu

Tidak ada yang berbeda di pagi itu. Matahari tetap bersemangat keluar dari peraduannya menggantikan tugas penjaga malam hari. Udara pagi hari dengan angin yang berhembus perlahan melengkapi awal hari yang cerah

Terdengar bunyi kesibukan di dalam pintu setiap rumah, teriakan bocah sekolah dasar yang enggan diganggu waktu tidurnya oleh si matahari . Penjual sayuran sejak subuh sudah berkeliling, menggedor semua pintu rumah yang kemudian disambut baik oleh para ibu-ibu yang keluar menghampiri sang penjaja bahan makanan itu.

tapi suasana berbeda terlihat di ujung jembatan tua di kota kecil itu. Sepasang kekasih tengah duduk dengan kepala tertunduk, lemah. Tangan mereka saling berpegangan erat, seakan di antara mereka ada orang lain yang berusaha keras untuk melepaskannya.

Mereka tidak saling menatap, keduanya menunduk ke bawah, saling melihat dua pasang kaki, satu telanjang dan yang lainnya tertutup sepatu.

Gadis itu sadar, tidak ada lagi yang bisa menahan kepergian si lelaki dari sisinya

Pembicaraan panjang yang alot, kadang dibumbui pertengkaran sudah berlangsung semenjak 2 bulan lalu. Ketika si lelaki memberikan kabar bahwa dirinya akan pergi mencari untung di kota besar, jauh dari kota asalnya.

..jauh dari sang gadis.

Selama dua bulan itu, sang gadis tumpahkan semua ketakutannya, semua keraguannya, apabila pasangannya tidak ada di sisinya.

Gadis itu takut..kalau-kalau si lelaki akan melupakannya

Gadis itu ragu..si lelaki akan ingat dengan janjinya

Sampai pada akhirnya si gadis mengalah, Mengalah dari keegoisannya

Di jembatan tua itu, satu pelukan erat yang hangat sang gadis melepas kepergian orang yang amat disayangnya, melebihi dirinya sendiri. Si lelaki tidak memberikan janji muluk. Hanya satu kalimat yang akan terus dipegang si gadis, diperdengarkannya pelan di telinga sang gadis

“aku akan kembali untukmu.”

Agustus 2010.

Advertisements