Saya, Dia, dan Masa Lalu

 

“Gue masih sayang sama dia,”

Kalimat itu terlontar begitu saja dari seorang teman. Pandangan matanya dibuang jauh ke ujung jalan. Ia menghela nafas panjang.  Jaket berwarna cokelat yang sudah lusuh didekapnya kuat seakan memeluk seorang kekasih yang tak hendak dilepasnya.

Entah sudah berapa kali teman saya bercerita hal yang sama. Tentang dia dan seorang perempuan yang ada di hatinya. Tentang kisah mereka yang tidak berakhir seperti drama romantis di televisi. Tentang dua insan, dua kepala, dua hati, yang oleh Tuhan diberikan banyak perbedaan dengan hanya satu persamaan ; cinta.

Saya hanya tersenyum simpul mendengarnya. Saya tahu teman saya itu tidak membutuhkan tanggapan atau jawaban. Bukan pula nasihat percintaan A-Z yang ia ingin dapat. Ia hanya butuh sepasang telinga yang mau mendengarnya. Dan di sanalah saya malam itu.

Di pinggir jalan kami berdua berdiri. Malam belum juga larut oleh hujan seharian. Siraman cahaya kendaran berpendar di tiap rintik hujan yang dikirim awan. Percakapan pun mengalir perlahan.

“Gue percaya jodoh itu tidak harus selalu berarti berujung ke pernikahan. Dengan kita sudah pernah saling mencintai dan berbagi waktu saja itu sudah jodoh,” kata saya sekenanya.

“Kadang gue berharap bisa kembali ke masa lalu,”balasnya.

Masa lalu itu seperti busur panah yang tertancap di rongga dada. Darah mengalir segar, dada terasa penuh sesak. Hanya ada dua pilihan. Pertama, mencabut  busur itu dan menahan perihnya yang tak terkira tapi luka perlahan akan mengering, dan kita bisa bernafas lega lagi. Atau, membiarkannya tertancap di dada dengan luka menganga, seperti pastinya matahari yang terbit di timur perlahan nafasmu pun akan mengendur lalu menghilang.

Ah, temanku sayang. Tidurlah. Mari berharap pagi segera datang dan resah kita akan segera hilang.

Lantai 12, 24 Desember 2012.

Advertisements