Sepenggal Cerita Tentang Hujan

lelaki hujan

Sore ini sama seperti sore waktu itu. Langit Jakarta seakan gelisah. Gedung-gedung pencakar langit tertutupi kelabunya awan. Tanda hujan akan segera tumpah.

Dulu ada yang pernah menahan saya pergi sebelum hujan turun. Dia tidak meminta banyak waktu. Hanya sepanjang derai hujan mengalun di penghujung senja keemasan.

Saya pun memenuhi keinginannya. Ketika itu kami berdua berada di sebuah kedai kopi. Saya dengan kopi hitam panas kesukaan saya, dia dengan teh manis hangat rasa lemon kesukaannya.

Tak lama hujan pun turun. Dari dalam kedai kami menyaksikan orang-orang sibuk membuka payungnya. Ada juga yang berlarian menghindari tumpahnya air hujan.

‘Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?,’tanya saya ke lelaki berpundak lebar itu.

Dia hanya tersenyum. Matanya yang tajam menatap mata saya dalam-dalam.

‘Kamu tahu kenapa saya menahan kamu di sini?,’ia bertanya balik.

‘Karena saya tidak bawa payung? Daripada kehujanan kan?,’ jawab saya sekenanya.

Dia membalasnya dengan tertawa. Renyah sekali terdengar.

‘Saya berani bertaruh. Begitu hujan usai saya akan membuat kamu jatuh cinta,’katanya.

Apa-apaan?Dasar lelaki sombong terlalu percaya diri, pikir saya. Seperti anak kecil yang tengah balapan mobil saja. Dia pikir siapa dia?

Malas sebenarnya meladeni ocehan lelaki ini. Dia terkenal gemar mengumbar kata. Konon, dia dijuluki sebagai seorang Don Juan.

..tapi siapa yang bisa menahan diri ditatap lekat oleh pemilik mata kecokelatan nyalang itu? Dan dia tahu jelas itu. Tahu dimana kelemahan saya.

..belum lagi candu yang ia bawa di setiap ceritanya. Memenuhi tiap sulur-sulur aorta tubuh ini. Memberikan sengatan ke tiap rasionalitas dalam otak dan mematikannya.

‘Tidak percaya?,’katanya membuyarkan lamunan saya.

‘Kalau begitu beri saya waktu. Seperti tanah yang menantikan datangnya hujan, dan awan yang ingin segera menghambur berpelukan,’ katanya.

‘Begitu hujan usai, saya akan membuat kamu jatuh cinta.’

Tidak perlu jawaban untuk kalimatnya. Tidak perlu pertanyaan untuk kata-katanya. Tanpa diminta, sukarela. Saya sudah jatuh cinta dengannya. Bahkan jauh, jauh  sebelum hujan turun membasahi Jakarta di kala senja hari itu.

 

RIRIN AGUSTIA

Advertisements