Ada yang jual sopan santun disini?

Malam ini saya pulang dengan rasa jengah setengah mati. Melempar tas ke lantai yang lalu saya ambil segera karena lupa di dalamnya ada laptop. Sambil menyalakan laptop saya merutuki nihilnya sopan santun pengguna kendaraan umum di Jakarta.

Tadi malam kepala saya sakit habis terantuk pintu transjakarta. Jempol kaki juga nyeri karena menahan tubuh agar tidak terjatuh di lantai bis. Semua karena  di belakang saya ada lima orang remaja perempuan  yang mendorong saya karena mereka ingin bergegas keluar. Bukannya minta maaf mereka malah tertawa.

Sialan.

Belum hilang rasa sebal saya ke lima remaja tanggung itu, ketika mau turun bus tangan saya yang kembali merasakan nihlnya sopan santun. Berhubung halte tempat saya harus turun sudah dekat maka saya berjalan ke arah pintu keluar. Tangan kiri saya berpegangan ke tiang. Bus belum berhenti sempurna depan halte. Ibu-ibu di samping saya memukul tangan saya. Kaget, pegangan saya pun terlepas. Si ibu-ibu itu langsung melejit keluar bus. Lagi-lagi tanpa ucapan maaf.

Sialan, sialan.

Saya jadi ingat bagaimana dulu diajarkan oleh orangtua dan di sekolah perihal sopan santun. Ada dua kata ajaib untuk menggambarkan hal itu. Maaf dan terimakasih. Kalau kamu salah sama orang jangan lupa bilang maaf. Kalau kamu dibantu orang, sekecil apapun, jangan lupa bilang terimakasih. Tapi sepertinya dua hal itu tidak saya temui di gerombolan remaja dan ibu-ibu tadi.

Mereka tidak ambil pusing kalau sikap mereka telah melukai orang lain. Yang penting saya aman dan nyaman sampai tujuan. Toh bagi mereka mereka saya hanya orang asing. Peduli setan dengan kepala saya yang terantuk lumayan keras dan jempol kaki yang nyeri.

Sebagai pengguna kendaraan umum menghadapi orang-orang semacam itu dibutuhkan tiga hal. Pertama, hati selapang 10x lapangan bola, kedua, kepala sekeras baja, dan ketiga, kaki sekuat akar pohon cemara.  Kejadian seperti itu entah sudah berapa kali saya alami. Dan biasanya kesabaran saya jarang sampai titik didih. Tapi sayangnya, malam ini saya tidak dianugerahi ketiganya.

Saya tidak habis pikir. Serius. Segitu susahnya kah bilang maaf, permisi saya mau lewat, lalu terimakasih? Apa iya mereka terlalu diburu waktu sampai tidak mau sebentar saja menunggu? Atau mungkin mulut mereka dipenuhi sariawan sampai sulit berucap maaf?

Ah, entahlah. Kepala saya kelewat pening buat mencari-cari pembenaran sikap mereka.

Tuh, bebek aja bisa ngantri

*Lantai 12, 12 Desember 12

Advertisements