Sunda Kelapa, Jakarta Tempo Doeloe

 

Alkisah, di sebuah wilayah yang masih masuk daerah wilayah kerajaan Banten, beribu-ribu kapal sering berlabuh di tempat ini. Namanya : Sunda Kelapa. Konon, pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan di Jawa ketika itu. Banyak negara seperti Portugis, Belanda, Jepang, Arab, Cina, datang menghampiri demi meraup kekayaan alam di pulau yang kaya ini dan juga tentu saja keinginan untuk menjadikannya sebagai daerah jajahan.

Begitu bangsa Belanda masuk, mulailah pembangunan dilakukan disana-sini. Seiring berjalannya waktu, wilayah ini juga mengalami banyak perubahan. Bukan hanya  gedung-gedung beratap tinggi bergaya Eropa berdiri sejajar di sungai yang membelah wilayah ini tapi juga akulturasi budaya yang menjadikannya semakin meriah. Namanya pun berubah-ubah. Sunda Kelapa, Batavia, Jayakarta, hingga terakhir Jakarta.

Kini, wilayah yang berada dekat dengan daerah Kota Tua ini sudah tidak seperti 400 tahun yang lalu. Tidak ada lagi rawa-rawa, yang ada hanya gedung bertingkat dan gedung tua beratap lapuk tapi tetap terlihat cantik. Setidaknya itulah yang saya lihat dengan mata kepala  saya sendiri ketika mengunjungi daerah itu sebulan lalu.

Ya, tulisan kali ini masih tentang misi saya : Berburu Tempat Baru. Menurut saya penting sekali untuk tahu cikal bakal ibukota Jakarta. Dan tempat yang tepat memang ke pelabuhan tertua itu, Sunda Kelapa. Jadi, yuk mariiiii..

Sambil menenteng kamera lomo Diana F+ saya juga menggeret dua teman saya ikut berpetualang. Dari Kota Tua kami lanjut naik kopaja 02 turun tepat di depan menara syahbandar. Menara pemantau kapal yang lalu lalang ini sudah berdiri sejak jaman perusahaan dagang bule londo alias VOC. Kabarnya, sebagai bekas benteng, dilantai bawah masih terdapat ruang bawah tanah untuk perlindungan dan pintu terowongan bisa tembus hingga Fatahillah (Museum Fatahillah, dulu Stadhuis) bahkan kemungkinan hingga Masjid Istiqlal karena dulu pernah ada Benteng Frederik Hendrik. Saat ini pintu menuju terowongan sudah ditutup, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. (sumber:Wikipedia)

Sayang, begitu kami kesana menara setinggi 12 meter dan berwarna putih merah ini lagi direnovasi. Bapak-bapak penjaga bilang pengunjung dilarang masuk. Sebab bangunan lagi rawan dinaiki karena entah kenapa belakangan menara tua itu jadi miring. Ah, penonton kuciwa kakaaak 😦

Meski kecewa tapi di sana kami lumayan terpuaskan dengan melihat Museum Bahari yang lokasinya sangat berdekatan dengan menara. Menurut saya museum yang awalnya dijadikan tempat penyimpanan barang oleh VOC ini kurang dirawat. Di beberapa ruangan yang terbuat dari kayu bau apeknya sangat menganggu. Belum lagi lantai dan dinding yang lembab. Wahai gubernur baru Jakarta, tolong donk dirawat peninggalan sejarah ini!

Dari sana kami sempat mampir sebentar ke pasar ikannya. Bau amis..yaiyalah kakakkkk, menurut ngana?!?!

Lanjutlah kami berjalan kaki ke tujuan utama yakni pelabuhannya! Berhubung matahari lagi beranak jadi delapan hari itu maka kami memutuskan untuk cari tempat berteduh dulu. Kami mampir ke kapal pesiar milik seorang saudagar kaya dari Belanda yang tengah berkunjung. Di dalam kapal kami bertemu dengan anak saudagar yang tampan rupawan.

Oke, boongnya keliatan banget. Haa..kriuk.

Habis mengisi amunisi di warung padang dalam pelabuhan, meluncurlah kami ke deretan kapal-kapal itu. Ternyata kami bukan satu-satunya ‘turis’ hari itu. Banyak orang yang juga pengin melihat akarnya Jakarta. Seru juga melihat abang-abang kuli angkut beras disana. Badannya kekar dan berawarna gelap. Semacam perompak di film… oke, #salahfokus

Di sana saya sering bengong. Bukan bengong ngeliat abang-abang bertubuh kekar, tapi saya membayangkan berada di tempat di tahun 1800an. Kapal yang berlabuh bukan yang pakai mesin, tapi masih kapal layar. Besar-besar terbuat dari kayu cokelat tua, dan terlihat galak sehabis menempuh perjalanan berbulan-bulan dari negara asalnya. Ada kapal dari Belanda, Portugis, Jepang, dan yang lainnya. Ramai sekali waktu itu dengan orang-orang berpakaian jadul. Berbicara dengan bahasa entah apa. Pasti seru!

Benar kata teman saya. menginjakkan kaki di Sunda Kelapa sambil membayangkan kembali ke jaman dulu itu sangat menyenangkan. Tidak percuma saya memutuskan untuk pergi ke Sunda Kelapa dulu sebagai awal misi. Puas sekali bisa menikmati nuansa Jakarta tempo dulu.

Tempat tujuan berikutnya kemana ya?hmm..

Ririn Agustia, 17 Oktober 2012.

Advertisements