Berburu Tempat Baru Day #1 : Setengah Baru

Oke, di hari pertama misi saya berburu tempat baru saya tidak benar-benar mengunjungi tempat baru sih. Saya hanya mengitari Jalan Sabang, Jakarta. Jadi bisa dibilang Berburu ke Tempat Setengah Baru.

Tapi aktivitas yang saya lakukan benar-benar baru. Kalau biasanya saya melipir ke Sabang buat cari makan atau ngopi kali ini saya  mencari tempat cuci cetak film negative kamera analog saya. Sebab, di misi berburu ini saya memutuskan untuk memakai kamera analog untuk mendokumentasikan tiap misi. Berhubung film yang lama belum saya cuci dan saya harus mencari film yang baru jadi saya bertekad untuk mengisi amunisi . Harus, kudu, musti.

Mungkin ada yang heran kenapa saya mau susah-susah motret memakai kamera analog. Sudah jaman digital masih aja serasa hidup di dunia megalitikum, Rin. Entah kenapa bagi saya segala hal yang jadul selalu mampu menarik hati. Di dalam tempat atau benda jadul seperti mengandung unsur magis yang bisa menyihir untuk setidaknya menengok ke arah mereka. Rindu pun menyeruak bersama kenangan yang dibawanya, nostalgia.

Syahdan, sodara, susah juga mencari tempat yang masih menerima cuci cetak film negative di Jakarta ya..

Nah, dalam proses pencarian ini sebelum datang ke Sabang saya cek ke FujiFilm di Matraman. Pas saya telepon sebelum ke sana katanya mereka terima cuci cetak film. Begitu sudah di TKP ternyata jenis film negative saya (120mm, C-41) enggak bisa dicuci di sana. Kata mba Fuji-nya mereka sudah enggak punya lagi mesin cuci cetaknya. Mereka hanya melayani cuci digital. Ah..damn you technology!

Gagal di Fuji saya enggak habis akal. Pokoknya sore tadi saya harus bawa negative ini ke tempat cuci cetak. Mau itu ke ujung Jakarta sekalipun. Terpikir untuk ke daerah Kebayoran lama yang katanya ada satu tempat yang memang khusus buat cuci cetak film kamera analog. Untungnya sebelum menempuh perjalanan yang pasti dihantui macet dari Matraman ke Kebayoran si Mba Fuji kasih saran saya cari di sekitaran Sabang. Walau sebenarnya si Mba enggak yakin 100 persen tapi berbekal nekat dan doa meluncurlah saya kesana ; Sabang.

***

Sabang bukan tempat asing buat saya. Jalanannya selalu ramai apalagi kalau di akhir pekan. Banyak orang lalu lalang di sana, mencari makan atau sekadar nongkrong. Tergoda untuk mampir ke kedai kopi favorit saya di Sabang16. Menyeruput kopi papuanya dengan roti panggang srikaya. Tapi tekad saya sudah bulat, mencari tempat cuci cetak!

Tiga tempat yang letaknya bersebelahan sudah saya sambangi tapi hasilnya nihil. Karyawan tempat cuci cetak itu bilang tempat yang masih menyediakan jasa cuci film negative adanya di Pecenongan. Tadinya saya mau langsung berangkat ke sana. Sembari jalan saya memutuskan untuk coba lagi bertanya ke satu tempat. Masuklah saya ke satu toko: Jakarta Foto.

Dari depan bangunan toko satu ini terlihat lama. Plang yang menandakan tempatnya juga tidak besar seperti tempat lainnya yang memakai reklame besar-besar dan berlampu. Jakarta studio hanya memasang satu plang kecil di papan berwarna putih dengan tulisan hitam (atau biru atau merah ya, saya lupa :p ). Hal-hal yang jadul memang memiliki caranya sendiri untuk menarik saya. Kaki saya pun melangkah masuk ke dalam.

Tidak ada yang spesial di dalamnya. Hanya deretan etalase kaca yang sudah tidak terlalu bening lagi berisi segala macam benda berkaitan dengan foto. Tempatnya memanjang ke belakang. Di bagian belakang ada mesin besar dan computer tempat untuk mencetak film digital. Sayangnya saya lupa untuk mengambil gambar tempat Jakarta Foto.

Di sana saya disambut sama bapak-bapak tua berparas Chinese yang sepertinya pemilik tempat itu. Saya langsung mengeluarkan film negative milik saya dari dalam tas. Dan memang ada koneksi ajaib antara saya dengan hal-hal jadul. Si bapak bilang tempat ini bisa cuci cetak film negative.

HORE!

Tapi harga yang dipatok memang agak mahal. Di tempat sebelumnya saya sempat tanya kalau cuci satu roll film itu hanya kisaran Rp 10.000 saja tapi di Jakarta Foto saya dikenakan biaya Rp 25.000 untuk cuci filmnya saja. Belum lagi harga cetak tiap framenya Rp 3000 ukuran kartupos. Saya juga harus menunggu minimal lima hari untuk semua proses itu.

Si bapak bilang mesin cucicetak film negative sudah jarang. Bahan-bahan dan alat yang dipakai juga mahal ketimbang digital yang tinggal colok flashdisk ke computer lalu print. Hitungan menit juga selesai. Bapaknya juga kasih tahu kalau mereka menunggu jumlah pesanan roll film yang dicetak banyak dulu baru dikerjakan. Alasannya lagi-lagi karena mahalnya biaya. Berhubung kadung penasaran jadinya saya rela mengeluarkan uang sekitar Rp 60.000.

Sekarang saya berdebar-debar menunggu hari Rabu pekan depan. Pengin cepat-cepat melihat hasil jepretan kamera analog saya. Hopefully it will be awesome.

Di tempat inilah misi Berburu Tempat Baru: Day #1 saya tercapai. Mission accomplished! 😀

Oia sekadar bocoran, saya Sabtu ini berencana ke daerah Petak 9 alias pecinan, Glodok. Tak sabar rasanya hati ini, dududu ..

Ririn Agustia, 7 September 2012

Ps: psst..judul postingan sebelumnya saya ganti karena rasanya lebih cocok sama yang baru itu 😀

Advertisements