Kartu Kredit, Perlu Enggak Sih?

Eaten by Credit Card ( photo taken from http://www.aidilakbar.com/2011/05/hutang-kartu-kredit/)

 

Banyak orang berbangga hati memiliki kartu kredit. Enggak tanggung-tanggung, ada yang punya kartu kredit sampai tujuh buah. Mau apa tidak punya uang tinggal gesek saja. Bayar membayar itu urusan belakangan, yang penting barang sudah di tangan. Padahal, belum tentu barang yang kita beli itu barang yang kita butuhkan. Malah banyak cerita yang saya dapat mereka membeli barang hanya karena ‘ingin’.

Saya bingung sebenarnya dengan bank dan kartu kreditnya. Soalnya bank yang mengajarkan kita  untuk menabung.  Tapi bank juga yang mengajarkan kita berhutang.  Aneh. Coba deh lihat, banyakan mana iklan promosi kartu kredit ketimbang iklan ajakan menabung lebih banyak? Kita disosialisasikan untuk terus ‘memakai’ bukan ‘menyimpan’.

Prinsip bank sebenarnya sederhana. Makin banyak konsumsi makin tinggi tingkat bunganya, makin kaya pula pemilik banknya. Sementara kita yang mengeluarkan uang, semakin miskin dan terjerat hutang pula. Apa iya kita rela kantong dikeruk habis-habisan demi mereka? Apes tiga kali lipat itu namanya.

Seberapa butuh sih anda menggunakan kartu kredit? Ok, memang dalam keadaan darurat semisal uang pengobatan dadakan bisa menjadi alasan anda memiliki KK. Tapi saya jadi bertanya-tanya, dari data yang ada sebenarnya berapa persen sih yang menggunakan KKnya untuk keperluan mendadak seperti kesehatan itu?

Nih ya, sekedar info, jumlah pengguna KK di Indonesia di tahun 2011 mencapai 13,8 juta. Angka itu diyakini naik terus 20-30 persen tiap tahun.  Dari empat pengguna KK hanya satu yang bisa melunasi penggunaan tiap bulan. Sementara itu hampir 70 persen pengguna membayar dengan cara mencicil. *

Mau tahu enggak berapa jumlah kredit macet? Bank Indonesia (BI) mencatat hingga akhir Februari 2012 jumlah kredit macet perbankan mencapai Rp 51,42 triliun. Dan paling banyak jenis kreditnya kredit apa? Kredit Konsumsi. Apa itu kredit konsumsi? Kredit Konsumsi adalah kredit yang digunakan untuk membeli sesuatu yang sifatnya konsumtif, seperti membeli rumah atau kendaraan pribadi. **

Nah terus kalau kebanyakan kredit konsumsi, asumsi kartu kredit sebagai dewa penyelamat ketika anda terdesak di masalah kesehatan enggak terjawab donk? Itu buktinya paling banyak pembelian barang pribadi tuh.

Serius deh, bukannya membeli sesuatu itu lebih enak ketika membayar lunas ya? Rasa was-was ketika memakainya juga berkurang. Lah wong sudah resmi jadi milik kita kalau rusak ya terima sendiri akibatnya. Nah kalau ternyata barang itu masih ada tunggakan kredit, sudah rusak enggak bisa dipakai eh masih disuruh kena bayar juga. Adanya tiap bulan muka anda akan semakin kusut tiap menerima tagihan. Apes tiga kali lipat lagi itu.

Kalau kartu kredit diibaratkan sebagai ‘bantuan’ dan ketika kita tidak bisa membayar ‘bantuan’ itu akan berbalik menerkam kita. Tidak tanggung-tanggung, kalau bisa seluruh isi rumah bisa ludes diambil. Apa itu yang namanya bantuan?

Sekadar pegangan mungkin bisa dimaklumi. Tapi kalau memakai KK karena tergiur promo diskon ini itu, atau supaya mendapat pengakuan sosial betapa ‘keren’ kehidupan anda di metropolitan mungkin anda perlu berpikir jutaan kali untuk apply KK.

Be the one who control your own life, not anyone else.

 

Ririn Agustia, 9 Agustus 2012

*berbagai sumber

Advertisements