Kenapa Harus (Tidak) Memilih

Kamu pilih siapa?Yang berkumis?Yang badannya tinggi besar gagah?Yang memakai baju kotak-kotak kemana-mana?Yang bukan datang dari partai manapun?atau yang mana?

Tanggal 11 Juli kemarin lebih dari setengah penduduk Jakarta menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada lima tahunan. Suara anda yang nantinya akan menentukan siapa penerus kekuasaan atau pembawa perubahan (kalau beruntung). Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta yang akan berada di belakang stir kendaraan besar dan sesak berisi penumpang 9 juta lebih penduduk Jakarta.

Apa Tugas Gubernur Baru Kita Nanti?

Persoalan transportasi yang sering jadi bulan-bulanan yang masih jauh dari nilai bertinta biru. Persoalan pungli administrasi di tingkat semisal lurah saja masih bertebaran bahkan mengakar. Hal paling mendasar seperti akses terhadap air bersih untuk warga-warga pinggiran Jakarta. Atau hak pejalan kaki di jalan raya yang kerap disalip oleh pengguna kendaraan bermotor. Tapi apa mau dikata?macet yang enggak ketulungan bikin mereka menempuh jalan cepat meski menelikung hak warga lainnya.

Sebut lagi permasalahan kompleks lainnya seperti pendidikan yang merata dan murah jika susah diperoleh cuma-cuma alias gratis. Begitu pula kemudahan dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang layak dan tidak berbelit-belit.

Para calon pun berebutan mengobral janji. Dengan spanduk dan poster yang memenuhi jalanan dan menghalangi pemandangan hijau mereka berusaha menarik simpati masyarakat. “Pilih saya karena saya akan menumpas habis masalah blablabla,” atau “Pilih saya untuk mendapatkan fasilitas ina-itu blablabla,”

Gerah.

Ya, telinga, mata, dan seluruh indera saya gerah mengetahuinya. Gerah karena cuaca Jakarta yang panas ditambah cuaca politik yang serba memanas. Tiap orang dimana-mana mendadak jadi serba tahu, serba pintar soal pilkada dan calon-calonnya. Meski bagus karena sebenarnya itu menunjukan kalau warga Jakarta sudah melek dalam politik.

Sebagai orang yang memegang KTP Jakarta, lahir dan menghabiskan 25 tahun di kampung besar ini saya sudah sampai tahap muak. Silakan sebut saya orang pesimis, golput atau golongan putus asa kata Butet Kertaradjasa. Tapi saya pesimis dan golput bukan tanpa alasan. Sebagai penduduk Jakarta saya sudah dibuat marah entah berapa kali oleh kelakuan para pemangku kepentingan karena pekerjaan mereka yang jarang beres.

Terjebak macet berjam-jam itu biasa namanya. Diminta uang terimakasih untuk mengurus surat-surat itu sudah seperti aturan tak tertulis yang dipahami semua orang. Rumah kebanjiran tiap tahun itu wajar. Yah, itulah yang namanya hidup di Jakarta.

Mau Coblos yang Mana?

Parpol itu semacam mesin uang. Mudahnya seperti ini, anda menanam modal sejumlah tertentu. Ditambah keinginan ‘investor’ yang membantu anda menjalani semua pertarungan. Dan kalau menang pasti ada yang diminta investor yang harus dipenuhi. Entah itu berbentuk materi atau non-materiil. Transaksional.

Yang tidak didukung parpol pun saya ragu bisa lepas dari kepentingan manapun. Ragu bisa membuat perubahan yang signifikan. Sebab, yang bobrok adalah sistemnya. Lagipula bagaimana bisa mereka membenahi Jakarta kalau postur anggaran untuk gaji pegawai memakan banyak jatah APBD ketimbang pos pembenahan Jakarta itu sendiri?

Saya, dan saya yakin banyak warga Jakarta lainnya, sudah bisa memilah dengan cerdas mana yang sekadar mengobral janji dan mana yang sekadar ingin melanggengkan kekuasaan dan kekayaan.

Tulisan saya ini  tidak bermaksud untuk mempromosikan calon tertentu atau mengajak orang-orang untuk tidak memilih. Saya hanya ingin memberikan berbagai pertimbangan untuk anda (pembaca blog saya siapapun itu) menjelang (katanya) putaran Pilkada kedua. Siapa yang akan keluar sebagai pemenang entah itu calon partai atau non-partai, orang Betawi asli atau bukan orang Betawi, kurus atau gendut, bagi saya sama saja.

Apapun pilihan anda, memilih ataupun tidak, itu adalah hak anda. Dan yang pasti sebelum memilih pastikan anda tahu apa itu program para calon dan latar belakang mereka. Karena anda pastinya tidak ingin memilih kucing dalam karung kan?

Salam bebas (tidak) memilih!

Ririn Agustia
Advertisements