Si Jalang yang Malang

Lajang jalang bersuara nyalang.

Sehari-hari tak mengharapkan lebih dari sekadar segenggam nasi putih berlauk jarang. Besar di pinggir pantai hidup menantang karang beratus tahun, menerjang ombak sekali tendang. Tawamu dulu begitu lantang, senyum manis terurai mengembang. Tahukah kau berapa banyak pemuda tertantang melahap habis bunga dadamu yang masih kuncup malu-malu mengintip di balik kebaya jingga kedodoran jingga milik ibundamu itu?

Lajang jalang bersuara nyalang.

Kini kamu hidup bagai binatang. Mengais-ngais di persimpangan selokan. Mengiba-ngiba di jempol kaki para bajingan ibukota. Nasibmu begitu malang, lajang jalang bersuara nyalang. Sinar matamu yang teduh dan penuh mimpi hilang. Suaramu tak lagi nyalang menantang. Dan dadamu yang menjadi pujaan tiap pemuda, tak lagi sedap dipandang. Bukan karena termakan umur, tapi karena di usiamu yang ke-23 kau harus menyusui dua bocah milikmu yang entah keturunan bangsat yang mana.

“Aku ini orang yang terbuang, tuan,”katamu lirih pada satu-satunya tamu yang datang malam itu di bilik cintamu.

Matamu menerawang jauh ke depan. Seakan berusaha menyebrangi samudera mimpi yang sudah lama kamu buang. Hidup di ibukota nyaris membuatmu gila. Meladeni nafsu bajingan kota besar yang seakan-akan menjadi yang paling benar.

Dulu kamu bermimpi hidup nyaman di kota besar. Bersuamikan pemuda berpendidikan tinggi. Memiliki sepasang anak-anak yang lincah dan pintar. Memasak di dapur milikmu sendiri, menyirami tanaman di halaman belakang rumah, menjemput anak pulang sekolah saat petang menjelang. Tapi semua mimpimu terkubur dalam-dalam. Sejak milikmu satu-satunya yang kau banggakan sebagai makhluk ciptaan yang Maha Kuasa hilang terenggut oleh om-om tua berperut buncit buruh tambang di belakang mobil jeep tua miliknya.

“Aku tak lagi punya mimpi, tak lagi punya hati. Mati.” kata-katamu berbalas jeda sunyi yang panjang. Bajingan berjenggot lebat melempar kasar gulungan duit seratus ribuan ke pahamu yang telanjang.

Selang sepuluh menit kamu rapikan baju merah mengkilat milikmu. Menenteng tas kecil berwarna senada kamu poles gincu merah seharga dua puluh ribuan.

Untuk kembali ke pinggir jalan.

Kembali menjajakan badan.

Ririn Agustia, 2 Juli 2012

Advertisements