Diperkosa Jakarta

Tiap pagi deru derap mesin kendaraan beroda dua itu membuat kepalaku serasa mau pecah. Bising sekali rasanya.  Padahal matahari belum juga sempurna muncul di atas sana. Tapi orang-orang seakan tak peduli. Saling menyalip, saling seruduk, mencaci maki, itu hal lumrah. Bukannya menyambut pagi dengan ceria justru menjadikannya seperti derita. Yang harus, mau tak mau – suka tidak suka, dinikmati oleh semua orang.

 

Dinikmati. Begitu perkataan yang sering dilontarkan mereka kepada sesamanya. Kampung besar dengan segala kebisingannya baik dari mesin atau orang-orangnya yang serupa mesin. Ibukota dengan keriuhannya yang tidak terkalahkan bahkan dengan musik hardcore paling absurd sekalipun. Bedanya, pemain musik itu hanya sanggup bermain sekian jam saja. Tapi kota ini mampu memetikan gitar dan menabuh drumnya tanpa henti. Tak kenal waktu. Nikmati saja.

 

Tik-tok-tik-tok-tik-tok. Satu, dua, satu, dua, satu, dua. Kiri, kanan, kiri, kanan, kiri, kanan. Begitu yang terdengar. Seperti robot metropolitan. Tidak boleh keluar jalur. Harus patuh tanpa berbuat gaduh. Remote control dipegang oleh apa yang disebut sebagai sistem. Begitu satu baut terlepas akan menghancurkan bagian lainnya.

 

Jakarta memang piawai membuat penduduknya gila. Pagi hari emosi  sudah diputarbalikan dengan kemacetannya. Beruntung kalau bisa sampai kantor tepat waktu. Kalau tidak siapkan telinga untuk menerima omelan si bos. Semakin siang maka semakin panas Jakarta melucuti kewarasan kita dengan brutal. Mau makan siang saja rasanya seperti dikejar-kejar banteng yang tengah birahi.

 

Malam hari datang bukan berarti waktu istirahat tiba. Sudah ada daftar tumpukan kerjaan menanti diselesaikan. Belum lagi tuntutan bersosialisasi dengan jaringan pertemanan yang semakin mengikis waktu.  Sudah tengah malam pun pikiran masih penuh sesak dengan ini-itu.  Semuanya berjejalan mendesak untuk dijadikan prioritas pertama.

 

Dan ibarat lagu, pagi hari itu kita diajak bersama-sama bernyanyi bagian awalnya. Bangun pagi bersamaan, menggigil mandi pagi, sarapan terburu-buru. Senada seperti paduan suara.

 

Siang hari menjelang petang itu memasuki bagian reff-nya.  Dawai-dawai laju kendaraan dan asap knalpot mengebul semakin memenuhi langit ibukota. Bunyi telpon yang tak henti-henti berdering di meja.  Banyak nada meleset yang memekakkan telinga hingga merah memanas.

 

Penutupnya?  Tergantung jenis musik yang anda pilih hari itu. Bisa menenangkan seperti lagu klasik atau berakhir dramatis seperti orchestra di opera broadway. Bisa juga standar dan tidak terlalu ear-catchy seperti lagu easy-listening kebanyakan.

 

Yah, mengutip satu lirik lagu klasik soal ibukota. “Siapa suruh datang Jakarta, siapa suruh datang Jakarta, sendiri susah sendiri rasa, edoe sayang”

 

RIRIN AGUSTIA

 

Advertisements