Membuka Tabir Industri Rokok

Christof Putzel, jurnalis video untuk Vanguard, terhenyak melihat video Aldi Rizal Suganda, 3,5 tahun, di YouTube yang menjadi perokok berat. Dari kasus itulah ia terilhami untuk membuat video dokumenter Sex, Lies & Cigarettes. Videonya mengangkat cerita bagaimana rokok tak bisa terlepas dari kebanyakan warga Indonesia, termasuk juga remaja dan anak-anak.

Di Amerika Serikat, jumlah perokok berkurang signifikan sejak 1960-an. Harga satu pak rokok pun dibanderol mahal, yaitu US$ 12,99 atau nyaris setara dengan Rp 120 ribu.”Generasi muda selama ini dibohongi, dimanipulasi oleh produsen rokok ,” ujar Christof, dalam diskusi buku bertajuk A Giant Pack of Lies Bongkah Rahasia Kebohongan-Menyorot Kedigdayaan Industri Rokok di Indonesia, Selasa pekan lalu, di kampus Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kecanduan rokok menjadi masalah besar di kalangan generasi muda “Sudah ada 60 juta pecandu rokok di Indonesia,” ungkap Mardiyah Chamim, salah satu penulis buku, saat peluncuran buku tersebut.

Padahal, zat-zat yang terkandung di dalamnya berefek buruk bagi kesehatan. Sebut saja di antara zat-zat itu ada yang digunakan sebagai bahan bakar roket, racun untuk eksekusi hukuman mati, pembersih lantai, penghapus cat, dan masih banyak lagi dalam satu batang rokok. Kesemuanya telah terbukti menjadi penyebab kanker, penyakit ganas yang sulit diobati.

Pernah lihat iklan rokok luar negeri ternama yang memperlihatkan sosok seorang koboi? Wayne McLaren dalam iklan itu terlihat gagah, pemberani, dan keren. Tragis, Wayne meninggal karena kanker paru di usia 52 tahun. Contoh lain, bekas pemilik produsen rokok terbesar Indonesia, Budi Sampoerna. Ia meninggal karena kanker mulut dan tenggorokan pada usia 78 tahun.

“Sayangnya, generasi muda keburu tergoda oleh citra yang diberikan dari merokok,” kata Mardiyah. Hal itu juga diamini Christof. “Iklan rokok memperlihatkan citra bahwa Anda independen, petualang, seksi, tapi tidak efek merokok yang menghancurkan dan membunuh perokok dalam waktu lama, ” katanya.

Di salah satu bab bukunya, “Indonesia, Benteng Terakhir”, tim penulis menceritakan bagaimana Indonesia mulai dilirik sebagai pasar baru setelah kekalahan industri rokok di negara maju. Upaya produsen rokok berhasil. Angka pecandu rokok terus meningkat tiap tahun. Pada 1995 prevalensi perokok dewasa baru sebesar 27 persen. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar pada 2010, angka itu naik menjadi 34,7 persen.

Peningkatan juga terjadi pada usia perokok muda. Riset Global Youth Tobacco Survey yang digelar Badan Kesehatan Dunia tahun 2006 mencatat Indonesia memiliki 24,5 persen buyung dan 2,3 persen upik (13-15 tahun). Sebagian anak itu (3,2 persen) bahkan telah menjadi pecandu rokok.

Peningkatan itu tak dapat dihindari. Apalagi di tengah-tengah gempuran media yang mengiklankan rokok. Iklan di televisi, baliho, dan papan iklan rokok berjejeran di pinggir jalan. “Iklan bisa membuat yang tak berminat jadi berminat, yang tidak tahu jadi tahu, yang tidak perokok jadi perokok,”kata Rts Masli, Dosen Universitas Indonesia yang pernah bekerja sebagai konsultan iklan rokok.

Dalam buku itu juga dipaparkan bagaimana intervensi industri rokok terhadap regulasi. Misalnya, mengatasnamakan petani tembakau dalam aksi penolakan terhadap peraturan pemerintah. Padahal para petani tak merasakan keuntungan jika produksi rokok meningkat. Semua keuntungan hanya dirasakan di bagian piramida atas, yaitu pemilik pabriknya sendiri.

“Karena gaji petani segitu-segitu saja dari dulu,” ujar Staf Khusus Menteri Kesehatan Bambang Sulistomo.

Industri, tak pelak, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pembahasan tentang rokok. Banyak yang menyatakan peraturan pengendalian tembakau bisa mematikan industri, bahkan mengganggu perekonomian. Seperti dalam buku Abhisam D.M., Hasriadi Ary, dan Miranda Harlan yang memaparkan besarnya industri rokok dalam negeri.

Buku yang berjudul Membunuh Indonesia, Konspirasi Global Penghancuran Kretek itu membahas bagaimana sejarah kretek di Indonesia. Cerita dimulai dari sejarah komoditas lainnya, seperti garam, gula, jamu, yang telah lebih dulu terlibas karena adanya kampanye global yang dilakukan negara maju. Menggunakan contoh tersebut, buku ini mencoba mengatakan industri kretek dalam negeri juga terancam mengalami hal serupa.

Kampanye antitembakau yang digaung-gaungkan selama ini disinyalir dapat mempengaruhi pendapatan dari cukai rokok. Tak hanya itu, jumlah penganggur juga akan meningkat. Alasannya, industri kretek adalah salah satu industri yang banyak menyerap tenaga kerja.

Konspirasi global yang dimaksud buku ini adalah Organisasi Perdagangan Dunia dan Badan Kesehatan Dunia, di mana di belakangnya adalah Amerika Serikat. Betapa tidak, di satu sisi kebijakan antitembakau sukses besar, tapi di lain sisi justru impor tembakau meningkat tajam.

Dari data terungkap bahwa impor tembakau 2003 sebesar 29.579 ton, naik menjadi 35.171 ton (2004). Pada 2008 impor tembakau mencapai 77.302 ton. Kenaikannya 250 persen dalam kurun waktu lima tahun. Impor cerutu juga naik, dari senilai US$ 0,09 juta pada 2004 menjadi US$ 0,979 juta pada 2008.

Fakta lainnya adalah masuknya dua raksasa rokok dunia ke Indonesia. Philips Morris mencaplok Sampoerna (2005), sementara British American Tobacco mengakuisisi Bentoel (2009).

Belum lagi, kebijakan Amerika Serikat yang memproteksi industri rokoknya, rokok putih, dengan melarang masuknya rokok kretek Indonesia. Alasannya, rokok kretek mengandung zat aditif berbasis cengkeh. Sepertinya sejarah berulang ketika pada 1990-an Amerika yang mengkampanyekan bahayanya minyak kopra asal Sulawesi, Indonesia, bagi kesehatan. Sebagai gantinya adalah minyak sayur yang berbasis kedelai.

Menurut buku Abhisam dkk ini, industri farmasi berada di balik kampanye antitembakau ini. Disebutkan, perusahan farmasi berkepentingan menguasai nikotin sebagai bahan dasar produknicotine replacement therapy. Dengan gelontoran dolar, perusahan farmasi mendorong banyak riset kesehatan tentang bahaya tembakau, program hibah antitembakau, hingga dukungan untuk berbagai konferensi dunia, termasuk WHO Tobacco-Free Initiative yang lahir pada 1998 (hlm 109).

Mardiyah membantah logika bahwa industri farmasi berada di balik kampanye antitembakau. Hal itu justru terbalik, menurut Mardiyah. Soalnya, katanya lagi, farmasi justru diuntungkan dengan banyaknya jumlah pecandu rokok. “Semakin banyak yang merokok dan terkena penyakit karena rokok, maka obat mereka akan terus laku,” ucapnya.

Mardiyah dan kawan-kawan dalam buku ini menekankan, pengendalian tembakau tak bermaksud memangkas hak orang merokok atau mematikan industrinya.”Saya tidak antirokok, tapi saya ingin industri rokok diatur sebagaimana mestinya,” kata Mardiyah seperti ditulis di bagian pertama buku.

RIRIN AGUSTIA

Judul buku: A Giant Pack of Lies Bongkah Rahasia Kebohongan: Menyorot Kedigdayaan Industri Rokok di Indonesia
Penulis: Mardiyah Chamim dkk
Penerbit: KOJI Communications bekerja sama dengan Tempo Institute
Cetakan: I, Desember 2011
Tebal: 183 halaman

Judul buku: Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek
Penulis: Abhisam D.M., Hasriadi Ary, Miranda Harlan
Penerbit: Katakata
Cetakan: I, Desember 2011
Tebal: 147 halaman

nb: Tulisan berita buku ini dipublish di Koran Tempo, Minggu 4 Maret 2012

Advertisements