Menjadi Bergaya

‘Seiring dengan meningkatnya temperatur, celana pendek adalah pilihat tepat. Ragam siluetnya mampu dipadupadankan dengan berbagai gaya yang membuat anda tampil lebih stylish. Tiru caranya!’

Kira-kira begitu tulisan pembuka halaman gaya berpakaian di salah satu majalah fashion ternama. Terus terang saya bingung dengan tagline majalah satu ini : Fun Fearless Female. Sebab, isinya sebagian besar seperti ini: ‘Mint color is so in this season! Padukan dengan atasan chic dengan palet hijau mint. Fresh!’. Lalu di bawahnya berjejer 3 pasang baju lengkap dengan aksesoriesnya, yang katanya, bisa membuat anda semakin bergaya dan tentu tampil menarik.

Di halaman lain ada lagi soal menjaga penampilan ketika berpergian. Jangan lupa bawa sunblock, sunglasses, dan tentu saja bikini paling seksi yang anda punya. Atau artikel lain yang lebih seksi,  soal menggoda pasangan anda di ranjang. Awww, awww. Haha. Ok, back to my point.

Ada satu hal yang membuat saya menganga lebar saat membaca majalah itu. Dan lebar mangapnya mulut bertambah tiap halaman demi halaman saya buka. Penyebabnya adalah banrol harga barang-barang yang dipakai dan dipajang di halaman.

Bayangkan, untuk bisa berpakaian ‘Work With Style’ anda harus rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah. Satu potong blazer hitam seharga Rp 499ribu, blus atasan Rp 449 ribu, celana pendek Rp 530ribu. Itu saja sudah lebih dari Rp 1,5juta. Gaya trendy dan ‘Fun Fearless’ itu belum lengkap dengan sepasang sepatu dan tas jinjing yang di majalah itu saja masuk kategori ‘Price Upon Request’ atau yang saya sebut ‘Naudzubillah mindzalik mahalnya’.

Atau untuk bergaya casual dengan kaos polos dan celana pendek kerut juga sendal teplek, majalah itu menyarankan pembacanya untuk membayar harga lebih dari Rp1 juta demi banrol ‘Fun and Fearless’. Coba bayangkan.

Gila!

Ok. Majalah itu memang menyasar konsumen kelas menengah atas. Perempuan-perempuan yang bekerja dengan gaji dua digit atau yang memiliki pasangan dengan gaji dua digit. Mereka yang mendatangi konser musik seharga pakaian yang melekat di badan. Juga mereka yang tiap bulan rutin mendatangi salon kecantikan.

Yang saya permasalahkan itu tagline Fun Fearless Female. Menurut saya konsep itu sepertinya hanya menyorot seorang perempuan yang menyenangkan, tidak kenal takut dalam soal bergaya. Bagaimana tidak kalau nyaris seluruh halaman kepala kita disodori ratusan pakaian, aksesoris, dan cara menjaga penampilan. Bukan soal perilaku apalagi pemikiran kritis. Yang didapat hanya hal-hal yang artifisial, sekadar di permukaan.

Jadi teman-teman perempuanku, jangan kaget kalau pria memperhatikan permukaan kita saja. Toh buku-buku yang kita baca kebanyakan mengajari kita berpenampilan menarik ketimbang berpikir kritis.

Yah, tampil bergaya memang tidak ada salahnya. Tapi kok rasanya aneh ya. Kita mengeluarkan uang untuk pakaian sementara masih banyak yang berteriak kelaparan di luar.

Ririn Agustia,
Perempuan yang bergaji satu digit. Image

Advertisements