Terpikir Perkara Mati

‘Bukankah hidup hanya tinggal menunggu mati?,’kata seorang teman.

 ‘Rasa-rasanya saya ingin mencoba mati, menantang hidup menjajal nasib, lalu kembali, ’kata teman saya yang seorang lagi.

Kematian itu pasti. Sepasti panasnya api dan dinginnya es. Banyak yang tergoda untuk mencoba mati. Adrenalin yang terpacu, rasa penasaran yang menyeruak, sensasi yang muncul bahkan hanya ketika terpikir tentang mati. Semua hanya karena kita belum pernah menghadapi kematian. Barang baru bagi semua manusia bahkan bagi bayi mungil yang baru terlahir ke dunia.

Mempertanyakan soal mati itu manusiawi. Takut mati itu juga manusiawi.

Tapi mendahului ajal?apa itu juga manusiawi? Atau perkara memutus nafas karena kehendak sendiri itu sebenarnya jalan yang telah ditentukan Sang Maha Kuasa?

Kembali ke teman saya. Saya tidak sepakat dengannya. Dia kelewat pesimis memandang hidup. Mana semangatmu? Sebegitu membosankah hari-harimu? Seberat itukah permasalahanmu? Sampai kamu memotong adegan hidup yang menyenangkan dan hanya berkutat di masalah kematian dalam kalimatmu itu.

Chairil Anwar dalam puisinya Derai-Derai Cemara begitu terlihat mempertanyakan hidup. Mempertanyakan dirinya melalui kalimat ‘Hidupku apalah tuhan’ yang diulang berkali-kali. Tapi di ‘Aku’ ia menolak mati.

Luka dan bisa kubawa berlari | Berlari | Hingga hilang pedih peri |Dan aku akan lebih tidak perduli | Aku mau hidup seribu tahun lagi!

Ah, manusia. Kalian memang tidak pernah puas. Tidak bisa menghargai tiap nafas yang dihembuskan ke dalam tubuh dan jiwa.

Jika ingin memahami kematian, pahami dulu kehidupan. 

“Katakanlah: Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” Yunus : 49

Ririn Agustia, 10 Mei 2012

Advertisements