Menikah

‘Kamu kapan ingin menikah?’

Begitu kira-kira pertanyaan yang belakangan kerap tertuju untuk saya. Dan biasanya saya, suka malas membicarakan hal itu. Hehe.

Saya masih menganggap pernikahan sebagai hal yang sakral. Bukan perkara dua jam duduk manis di pelaminan, menghamburkan jutaan rupiah untuk pesta semalam suntuk. Mempertontonkan kehebatan jaringan relasi dari undangan yang datang, mengundang saudara jauh yang bahkan itu kali pertama saling bertatap muka.

Ada yang berkata, pernikahan itu satu bentuk relasi sosial ekonomi. Banyak pertimbangan di dalamnya.  Siapa orang tua calonmu? Apa pekerjaan orang tuanya? Lulusan dari universitas mana dia? Bekerja di perusahan bonafid mana?

Perihal menggabungkan dua keluarga jadi satu mungkin memang benar.  Tapi apa saya yang masih berpikir terlalu naïf ya? Tak bisakah kita menikah dengan orang karena memang benar-benar jatuh cinta?bukan karena latar belakang keluarga dan sejarahnya?

Saya ingin menikah bukan karena ‘jatuh cinta’ dengan pelbagai konsep pernikahan. Dengan siapa saja boleh asalkan dia bisa memenuhi semua ekspektasi saya  dan lingkungan saya. Saya ingin menikah karena memang saya menginginkan orang itu, pasangan saya, menjadi teman hidup untuk seterusnya.

Berbagi cerita berjam-jam, beradu argumen soal hal remeh temeh, sama-sama pusing memikirkan bobroknya pemerintahan, bercinta yang panas sampai terasa rontok badan, atau hanya duduk semeja berdua dengan dua gelas kopi hangat tanpa satu kata pun terucap.

Ah, teman hidup. Teman dan hidup. Dua konsep yang sebenarnya sederhana tapi susah untuk dijabarkan. Tapi tidak semua hal harus dijelaskan dengan logika, kan?

‘Kalau kamu pusing, capek, kan ada dia yang mau mijitin dan buat hilang semua rasa capek kamu,’ ujar seorang teman ketika ngobrol sama saya sekira dua pekan sebelum ia melepas masa lajang. Dari semua alasan kenapa dia memutuskan untuk menikah, dia mengucapkan hal itu. Hal yang amat sederhana.

Ririn Agustia, 8 Mei 2012

Advertisements