Menjadi Jakartan!

Jakartan, atau dalam bahasa Indonesianya itu Orang Jakarta. Saya lahir dan besar disini, yang kata salah seorang dosen sosiologi disebut sebagai kampung besar (maaf saya lupa namanya). Nyaris 25 tahun hidup saya dihabiskan di kampung besar, ibukota Indonesia. Otomatis, banyak sudut jalanan saya kenal. Meski tak jarang juga kesasar di hutan belantara kota berpenduduk lebih dari 9 juta ini.

Tulisan ini saya buat setelah membaca tweet dari akun @InfoJakarta. Saya sendiri baru ngeh sama akun ini setelah ada seorang teman yang me-retweetnya. Kemudian saya jadi terpikir, 25 tahun tinggal di ibukota apa saja sih yang saya tahu soal Jakarta. Apa benar saya sudah menelanjangi seluruh jalanannya? Menyambangi satu persatu tempat-tempat ternamanya?

Nah makanya kali ini, sekadar tulisan selingan di akhir pekan, saya iseng mau membuat catatan hal-hal kecil tentang sudut kota Jakarta. Tak ketinggalan juga orang-orangnya.

* Merasakan macet tanpa kenal waktu
* Telat datang karena jalanan yang tidak bisa diprediksi
* Memaklumi orang telat karena alasan sebelumnya
* Wajib menghafal nomer kendaraan umum dan trayeknya
* Sering kesal karena kadang dioper kendaraan di tengah jalan
* Berjuang berdiri berdempetan di dalam bis yang sudah penuh dan mengumpat kenek yang maksa tetap naikin penumpang
* Mengantri Transjakarta yang waktu kedatangan dan penuh tidaknya bis hanya Tuhan yang tahu
* Memilih naik ojek untuk membelah kemacetan Jakarta

* Menikmati makan siang atau malam di mall daerah Sudirman-Thamrin
* Menghabiskan berjam-jam kongkow sama teman di sekitaran Kemang atau Sabang dan Jaksa saat akhir pekan
* Menyeruput kopi hitam panas di kedai kopi pusat kota saat jam-jam orang pulang kerja
* Janjian sama teman selepas jam kerja kalau tidak di mall, restoran cepat saji, atau kedai kopi

* Mengunjungi pusat perbelanjaan grosiran dari Tanah Abang, ITC yang tersebar di penjuru jakarta, sampai pusat barang bekas di daerah Senen
* Mendatangi acara seni yang sering terpusat di TIM atau Salihara
* Seru-seruan ikut olahraga di carfreeday, tapi cuma bertahan 2 pekan dan setelahnya bosan

* Mengutuk datangnya malam di hari Minggu karena itu berarti besok harus mengulang rutinitas dan menghadapi kemacetan lagi

Sejauh ini baru terpikir segini. Kalau ada yang mau menambahkan, silakan 😀

Ririn Agustia, 5 Mei 2012

Advertisements