Belajar Berdamai Dengan Masa Lalu

 “Melupakan itu mudah tapi memaafkan itu perkara lain”

Kurang lebih begitu satu penggalan kalimat yang saya dengar kemarin malam. Keluar dari seseorang yang kini lebih dari sekadar teman bagi saya. Saya akui kalau saya memang buruk menghadapi kenangan, terutama kenangan yang tidak menyenangkan. Bukan maksud berlari dari kenangan. Tapi rasanya banyak hal yang ingin dihapus dari memori otak, kalau saja bisa.

 

Tiap tempat membawa kenangannya tersendiri. Baik itu manis atau pahit terekam dengan jelas. Bahkan, kalau saya inginkan, semua adegan bisa dengan mudah diputar ulang di kepala. Canda, tangis, tawa, cerita, semua perasaan yang dulu hinggap menyesap hingga pori terdalam. Tak heran terasa sangat menyakitkan begitu tercerabut paksa.

 

Seperti menanggalkan pakaian yang lama dan mengganti dengan yang baru, katanya lagi. Tiap orang memiliki kisahnya sendiri. Tinggal masalah keinginan untuk bisa memilih untuk memaafkan. Susah memang. Tapi pasti bisa. Dan seperti penawar racun dari ketidakwarasan saya. Dia, yang sekarang berjarak satu jam dari saya, mau menerima semuanya. Saya dan kisah saya.

 

Dan untuk kamu beserta kenangan itu, saya sudah bisa memaafkanmu.

And at last I see

How my heart was blind

To the joys before me

That I left behind

Now At Last – Feist

Ririn Agustia, 2 Mei 2012.

Advertisements